Menjalani rutinitas baru pasca menikah, yaitu memasak. Hal yang sepertinya susah-susah gampang, gampang-gampang susah buangeeeet. Tidak ingin bercerita tentang bagaimana hebatnya (eh maksudnya HEBOHnya) ketika memasak tapi mencoba berbagi pengalaman untuk siapa saja yang sedang mempersiapkan pernikahannya, atau untuk cewek-cewek yang sampai saat ini belum mau meluangkan waktu untuk hal kecil yang penting yaitu belajar memasak . Pernah dulu baca sebuah tulisan di koran resep masakan yang rutin aku beli, disana tertulis ”seberapa banyakpun resep yang di baca dan di kumpulkan tidak akan membuat kita pandai memasak sampai kita mencoba resep2 tersebut”.
Benar juga, aku termasuk kolektor buku resep masakan yg paling getol, dari Koran, majalah, resep2 kecil ampe website2 memasak semua aku koleksi. Sampai2 akupun berlangganan Koran masak memasak. Tapi aku juga tak kunjung jadi chef seperti farah queen hehehe…. Ternyata karena selama ini aku Cuma ngeliatin gambar2 masakan dan membayangkan enaknya masakan tersebut. Ketika giliran muncul “rasa ingin memasak” langsung dech muncul penyakit “malas”, “ribet”, “khawatir gak jadi” dan lain-lain….
Dan jreng jreng,,, 1/2 tahun mendekati akan menikah mulai dech aku sibuk latihan memasak. Walaupun aku gak gaptek2 amat sama bumbu2 tapi aku belum punya “sense of cooking”…. Semua2 masih harus lihat resep dan HARUS persis baik takarannnya, HARUS persis bumbunya dan HARUS persis cara memasaknya…. Kalo lihat ibu2 lagi masak mereka tinggal masuk2in ajah bumbunya pake feeling jawabnya kalo di tanya…
Waktu menjelang menikah, aku sudah menyampaikan pd calon suamiku bahwa untuk memasak aku bisa tapi tidak pandai, karena kategori pandai menurutku adalah bisa memasak dengan rasa “pas” dan variasi yg banyak. Dan itu belumlah aku bangeeeet hehehehe….. Alhamdulillahnya bisa di maklumi katanya insyaAllah kalo dah jadi istri pasti lama kelamaan akan pandai (dan Alhamdulillah, stlh menikah aku bisa juga memasak)
Setelah menikah sayur pertama yg aku masakan untuk suamiku adalah tumis kangkung hehehe…. Secara ini sayur yg paling gampang banget…. Dan ternyata klo di lidah kita pas belum tentu di lidah orang lain juga pas… jadi waktu ku tanya gimana rasanya ? di jawab dengan senyum “rasa kangkung ^_^”
Jadilah setiap hari aku selalu belajar memasak, mirip seperti penelitian yg kusukai itu. Setiap perkembangan memasak ku catat dalam buku laporan pribadi memasak, ku beri nama “catatan penelitian memasak prof.mei”. setiap kesalahan di catat, setiap penemuan dlm memasak di catat, setiap masukan dari temen2 dan orang2 tua di catat, semua di catat….
Biar lambat asal selamat…. Eh salah… tidak ada kata terlambat dink… tapi untuk sahabat2 yg belum terlambat saya berpesan, belajarlah memasak sedini mungkin. Jangan sepele khan hal ini. Walaupun memang warung nasi banyak banget (apalagi di jogja), masakan cepat saji juga praktis, tapi pasti dech masakan kita lebih di sukai oleh keluarga kita.
Cobalah sahabat luangkan waktu minimal 2 hr dalam seminggu untuk belajar memasak. Hingga nanti kalo sudah tiba waktunya menjadi koki hebat di surga kecil kita (rumah) maka akan sangat memudahkan peran kita.
Oh ya satu lagi, ternyata memasak itu bukan sekedar memasak apa yg ingin kita makan atau apa yg kita suka, tapi lebih ke apa yg mereka (orang2 yg kita cintai) ingin makan dan apa yg mereka suka, dan kadang kita dengan ikhlas merelakan selera kita hanya untuk membuat mereka terseyum dan lahap memakan masakan kesukaan mereka dari tangan kita. ^_^
Selamat memasak bunda, sajikan terus makanan halal dan thoyib untuk keluarga…
1 lagi (dari tadi satu lagi terus hehehe…) ada yg membuat aku selalu yakin dalam memasak walaupun aku belum jago masak, bahwa masakan yg kita buat dengan penuh cinta dan di iringi doa dan dzikir ketika memasak punya citra rasa tersendiri…. Klo yang ini pasti keajaiban ALLAH SWT yg menjadikannya ^_^
By : mei (Annisa mutaqarabahulloh)


