senyum ibadah….

Ya Allah jangan kau letakkan dunia di hatiku, letakkan saja dunia di tanganku agar aku bisa mengendalikannya bukan dikendalikan olehnya…. hidup sekali untuk ibadah ^_^

SEMINAR DATA MINING

Leave a comment »

Perbincangan 100 Km

Sore itu kami berempat, malaju dari Semarang menuju Pekalongan. Kebetulan jalan di daerah Semarang menuju Kendal agak sedikit rusak (sedikit?? Banyak kale !!!). Agar suasana jadi santai karena jalan yang macet, teman sekantor bapak mulai mengomentari kemacetan ini. ”Wah… kok bisa ya galian nya gak di tutup sempurna kaya gitu? Makanya jadi macet kaya gini!!!”. saya hanya diam melihat obyek yang dikomentari. Wah..wah.. ini mah dzolim namanya, saya lihat banyak pengendara sepeda motor yang kesusahan melewati jalanan yang tidak rata dan bersusah payah pula menghindari becek (mana hujan, becek, gak ada ojek hehehe….slogannya si cinta laura) akibat hujan yang menggenang di galian yang gak rata itu. Ingatan saya terbayang pada buku terakhir yang saya baca judulnya tarikh khulafa karangan imam Syuyuthi, disana diceritakan tentang salah satu kholifah yang bernama umar bin abdul aziz, seorang kholifah dari bani Umayah yang mempunyai catatan emas. Beliau selalu saja tidak tenang tidurnya memikirkan rakyatnya, beliau sangat khawatir jangan sampai ada keledai yang terjerembab kedalam lubang. Subhanalloh, keledai ajah dipikirin, lha sekarang ini yang terjerembab dalam lubang tidak hanya keledai tapi manusia saking banyaknya jalan yang bolong. MasyaAllah……

***

Bapak yang sedang nyupir malah lebih asyik mengomentari para pemakai motor yang nekat ambil jalan melawan arus di jalur sebelahnya. ”lihat tuch pengendara motornya nekat banget ya?”. sayapun jadi ikut melihat ke arah motor yang di tunjuk bapak. Heheh… iya emang nekat tuch pengendara motor, dia sedang menaikkan motornya ke pembatas tengah jalan dengan susah payah agar berhasil masuk ke jalur yang berlawanan arah. Orang kalo lagi buru-buru ada ajah usahanya. Ternyata tindakkan nekat pengendara motor tadi diikuti oleh motor-motor yang lain. Kalo saya lebih tertarik memperhatikan sepasang suami istri yang sedang naik motor dengan bayi yang masih sangat kecil di gendongan ibunya. Saya perkirakan usia bayi itu mungkin baru 2 bulan. Tapi dalam benak saya merasa kasihan dengan sang bayi yang harus menghirup udara kotor polusi dari beberapa knalpot yang sudah tidak memenuhi standar (hehe… jadi inget suara knalpot motor saya. knalpot saya hanya mengeluarkan suara yang nge BASS banget, tapi asepnya gak item kok ^_^). Polusi memang jadi permasalahan di negeri ini, belum lagi penebangan hutan, ilegal loging, banjir, kelaparan, flu burung, kurang gizi, penganiayaan TKW, import sampah dari Singapura, Korupsi, pengangguran, kriminal dll wah…. ternyata banyak banget permasalahan negeri ini. Penumpang mobil satunya??? Si adek,…Adek saya cuma kedap kedip nahan kantuk. Karena perjalan kami berdua di mulai dari Jogja.

***

Perjalanan masih panjang, akhirnya bapak tertarik membicarakan kegiatan saya tadi pagi. Gimana demonya kata bapak? Bukan Demo pak, tapi matsiroh…!!! ooo, bedanya apa? tanya bapak. Kalo Demo itu kalo dalam kamus artinya aksi yang cenderung akan menggunakan kekerasan. Sedangkan matsiroh adalah aksi untuk menyeru kepada umat tanpa kekerasan… keliatannya bapak belum faham, mungkin menurut beliau ah sama ajah… bingung ya pak?? Kalo yang lebih jelas itu bedanya DEMO ama AKSI!!… nah kalo itu apa bedanya tanya bapak semakin penasaran, bedanya kalo DEMO rodanya tiga kalo AKSI rodanya empat hehehe…. (saya tahu agak sedikit jayus, tapi biar bapak gak kepikiran ttg beda matsiroh dan demo tadi terpaksa dech pake senjata handalan ”ngeles”). Aksinya tentang apa mbak??? Tentang Aksi keprihatinan terhadap kondisi Indonesia pak, jawabaku. Bapak khan lihat sendiri kondisi bangsa ini seperti apa? Kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit, tingginya harga sembako, dll. Prihatin banget khan pak, padahal kita khan katanya negeri kaya, terus pada kemana kekayaan itu??. Terus sholusinya apa mbak?? SYARIAT ISLAM, jawabku mantap… 

Tiba-tiba ajah temen bapak komentar (beliau dari tadi diem ajah) yang membuat saya cukup kaget juga, apalagi suaranya juga agak ngebass kenceng. Wah, kalo solusinya syari’at islam saya gak setuju. Kenapa om? Tanyaku….. Ya Indonesia khan bukan negara Islam, sedangkan kita juga terdiri dari beragam agama dan suku bangsa. Masuk akal juga sich pernyataan temen bapak ini. Om, berbeda itu fitrah, karena Allah ciptakan manusia bersuku-suku. Memeluk Islam juga fitroh, karena fitroh seorang makhluk adalah menemukan Tuhan yang Esa yaitu Allah menemukan kebenaran, berari fitrohnya semua orang adalah Islam. Dalam negera Islamlah satu2nya sistem yang tidak mengenal istilah Mayoritas dan Minoritas. Sekarang negara mana sich yang tidak mengenal istilah mayoritas dan minoritas ??? keliatannya gak ada dech. Amerika saja yang katanya bapaknya kebebasan ajah masih mengenal istilah mayorits dan minorits. Tapi dalam negera islam (negara yg diatur dengan sistem Islam) tidak ada istilah Mayoritas dan Minoritas, semua sama statusnya sebagai warga negara daulah yang mendapatkan pelayanan dari daulah. Hal ini sich yang kebanyakkan tidak diketahui oleh kaum muslimin ini sendiri. Hmm… iya ya?? Wah saya takut denger syariat Islam ternyata karena saya tidak tahu apa itu syariat Islam kata temen bapak. Alhamdulillah….. tugas ana menyimpulkan sudah diambil alih oleh beliau sendiri. Ya, Allah sesungguhnya Engkaulah yang Maha Membolak balikkan hati manusia.

***

Perbicangan tentang seputar syariat islam terus asyik sampai ke daerah Weleri. Kami bertiga diskusi tentang islam sangat seru dan asyik. Adek saya??? Masih sebagai pendengar setia . Pak, kalo di kantor sering ada kajian gak sich?? Sering, sehabis dzuhur jawab beliau. Kalo saya sich gak tahu, saya jarang ikut sich, malesss temen bapak nyambung ke pembicaraan kami. Kalo papah nich rajin mb mei, kata beliau sambil menyanjung bapak. Ah, enggak juga. Kalo saya sedang sibuk dan tidak tergantikan saya tidak ikut tapi saya akan merasa sangat bersalah bila tidak ikut kajian ketika waktu saya luang atau tidak ada pekerjaan, . Wah… jawaban bapak membuat saya tertegun juga. Hmmm…. iya ya, banyak dari kita yang merasa biasa-biasa saja jika tidak mengkaji islam, padahal juga gak sedang dalam keadaan sibuk. Yach.. waktu luangnya di gunakan untuk aktivitas yang kurang berguna. Dan parahnya ya itu … tidak merasa bersalah…. saya jadi teringat ketika mengajakin temen2 datang ke kajian kalo sedang di kampus. Banyak temen2 yang tidak merasa bersalah ketika tidak datang ke kajian ilmu padahal mereka sedang luang….

***

Akhirnya sampai juga di Pekalongan, perjalanan 100km kami menuang banyak ilmu dan pelajaran, baik bagi saya, temen bapak, ataupun bapak. Adek saya??? Dia masih tetap setia mendengarkan… semoga jadi penyemangat adek untuk juga tertarik dengan Islam dan mengkajinya. Amin… agar perjalanan selanjutnya mbak dan adek yang akan menyuarakan islam di tengah-tengah keluarga kita dan juga masyarakat. Amin

2 Comments »

AL QUR’AN YANG TERABAIKAN

Allah SWT berfirman :
Berkata Rosululloh : Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al Qur’an ini sesuatu yang di acuhkan (Al Furqon : 30)

Ukhti tercinta, hari ini banyak kudengar dan kusaksikan dari para wanita yang telah mengabaikan terhadap kitabulloh Al Qur’an, baik membaca atau menelaahnya dengan alasan terlalu sibuk baik kuliah, atau mengurus suami dan anak, serta sibuk mengurus rumah tangga dan lain sebagainya.

Ukhti, memang suami memiliki hak padamu, tetapi hak Allah lebih besar daripada hak suami dan keluargamu. Ironisnya banyak waktu yang terbuang percuma, seperti belanja dan ngobrol lewat telpon, atau ngobrol di kamar sebelah kamar kosmu.

Bagi ukhti yang telah bersuami, adakah hal-hal tadi menjaga hak suami? Atau hak suami dijadikan alas an bila mulai diingatkan tentang hak Allah? Meskipun yang kau lakukan itu benar, tetapi di katakana hak suami jika bukan sejalan dengan hak dan syari’at Allah.

Untuk ukhti yang sibukkan oleh pekerjaan kuliah dan belajar. Adakah hal-hal tadi menjaga hak dirimu untuk bersenang-senang atau berbakti pada kedua orang tua? Atau memanjakan dirimu dan birrul walidayin (berbakti pada orang tua) engkau jadikan alas an ketika mulai diingatkan tentang hak Allah?

Sejarah memperlihatkan profil ‘Aisyah dan Ummu Salamah, wanita yang berhasil dalam karya, dari melayani suaminya, Rosululloh, juga selalu berpegang teguh kepada Kitabulloh Al Qur’an. Mereka penuh kesibukan, tetapi tidak mengabaikan hak-hak Allah bagi dirinya. Ingatlah bahwa setiap huruf al Quran terdapat kebaikan dan pada ayat-ayatnya terdapat hikmah yang tak terbilang banyak.

Problematika wanita dewasa ini adalah mereka melalaikan dan tidak menghayati firman Allah. Perintah-perintah Allah melalui Alquran banyak yang terlewatkan. Jangankan untuk mengamalkannya, untuk membacanya saja kaum muslimin mulai terlalaikan. Lalu masih kah di pertanyakan mengapa bencana ada dimana-mana???

Leave a comment »

IBUKU HILANG NASIBKU MALANG

Temu Muslimah Peduli Perubahan

Untuk Kalian yang pada penasaran kenapa kondisi kaum muslimin bisa sampai separah ini..???
Aqidah kaum muslimin udah banyak yang kacau…
Hal bid’ah dianggap biasa…
Yang Syari’i malah di tinggalkan…
Kondisi kaum muslimin yang terancam, ketakutan…
Cap Teroris…
Kemunduran pemikiran…
De el el..

TAU GAK ?????????
Itu semua karena :

IBUKU HILANG NASIBKU MALANG

Siapa Ibu kaum muslimin…
Apa sich yang dimaksud dengan ”Ibu” Disini???

So Dateng ajah ke ACARA SERU yang di selenggarakan Hizbut Tahrir kepengurusan kampus UII-UAD-STIE HAMFARA

Catet ya :
Hari : Minggu
Tanggal : 13 April 2008
Tempat : Masjid Ulil Albab
Jam : 08.00 – 11.45

Bersama : Ustdz Aridhayanti, ST

ADA DOOR PRIZE nya Lho….
ADA HIBURAN SYAR’I juga..
Dan ILMU yang Bermanfaat..


6 Comments »

Pudarnya Pesona Cleopatra

pudarnya-pesona-cleopatra.jpgKarya-karya kang Abik memang selalu menarik untuk di simak. Setelah Ayat-Ayat Cinta yang fenomenal saya jadi suka mencari-cari karya kang Abik yang lainnya. Menurut saya Kang Abik penulis yang cerdas, ceritanya tidak hanya berisi alur kehidupan tetapi banyak ilmu yang juga tersapaikan. Saya suka sekali penggambaran beliau tentang mesir dan kebudayaannya plus dialog-dialog bahasa Arabnya membuat ceritanya jadi asyik (apalagi saya yang belum bisa-bisa b.Arab dengan lancar )….

Tulisannya yang inipun tidak kalah menarik. Pudarnya PEsona Cleopatra. Masih mengambil sedikit latang belakang Mesir, tapikejadiannya di Indonesia. Ceritanya mengharukan… untuk lebih lengkapnya simak ajah ceritanya….

Toek para suami, Yakinlah… istrimu selalu berusaha membahagiakanmu…

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu”
kata ibu.

“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu” , ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.

Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.

Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.
Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.

Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.
Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.

Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.

Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.

Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga” Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. “wallahu a’lam” jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?

Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini”. Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.

Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih” lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah siap” kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. “Mas aku buatkan wedang jahe” Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.

Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. ” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. “Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas”. ” Biasanya dikerokin” jawabku lirih. ” Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya.” Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu” kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”. Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.

Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya” kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. ” Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.

Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.

” Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang” Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe.

Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. ” Maaf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. ” Ya Mas!”
sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil “dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.

Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ” Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”.
Hana begitu bahagia.

Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.

Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. “

Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.

Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.

Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana.
Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. ” Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu” kata ibuku. ” Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.

Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.

Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya” Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya diam dan mendesah sedih. ” Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta” gumamku.

Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, ” Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.
Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.

Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kamu sudah menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan orang mana?. ” Orang Jawa”. ” Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”. “Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”. ” Kau sangat beruntung, tidak sepertiku”. ” Kenapa dengan Bapak?” ” Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang”. ” Bagaimana itu bisa terjadi?”. “

Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank arena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.

Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.

Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin.
Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.

Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan YAsmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa.

Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi.
Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.

Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya.
Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.

Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. ” Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”.
Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.

Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku.
Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong.
Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang”.

Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.

Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi�?�ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.
Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.

“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba” tulis Raihana.

Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.

Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya.
Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau”.

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.

Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.

” Raihanaï…istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya” . ” Ada apa dengan dia”. ” Dia telah tiada”. ” Ibu berkata apa!”. ” Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu.

Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya” .
Hatiku bergetar hebat. ” kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”. “

Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi Maafkanlah kami”.

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.

Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua ……..

Sumber :
Buku : Pudarnya Pesona Cleopatra ( Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa )
Karangan : Habiburrahman El Shirazy ( Penulis Novel best seller Ayat-ayat cinta)

4 Comments »

Berpulangnya Mujahidah Dakwah

November 17th, 2007

Dan Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (TQS. Al-Baqarah : 154)

Demikianlah kutipan ayat nan indah dan pas yang bisa dikenang bagi sosok seorang syabah HT Sumedang, Jawa Barat, Liling Karwati. Almarhumah dipanggil Sang Khaliq sebagai syahidah, tatkala ia melahirkan putra keduanya. Ia juga dikenal sebagai mujahidah dakwah, pejuang sejati penegak Syari’ah dan Khilafah. Dia wafat dalam kondisi pendarahan yang hebat dan merupakan kasus persalinan tergawat yang pernah dialami paramedis di RSU Kab. Sumedang. Namun, persalinan tersebut tidak mampu menyelamatkan bayinya. Sang bayi dipanggil oleh Allah SWT.

Usai melahirkan, pendarahan hebat pun terjadi. Satu-satunya jalan untuk menghentikan pendarahan adalah operasi angkat rahin, tanpa anastesi! Almarhumah koma, dan membutuhkan darah sebanyak 12 labu untuk perawatan intensif di ruang ICU. Sejak itulah ia tak lagi sempat menyaksikan dunia ini, bahkan sekedar mengucapkan salam perpisahan bagi sahabat-sahabat yang mencintainya karena Allah.

Berbagai upaya dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan disertai iringan do’a dari seluruh syabab dan syabah yang peduli pun dilakukan, SMS berantai pun disebarkan untuk mencari yang berdarah O, dengan harapan bisa membantunya. Namun, belum sempat semua darah itu mengalir ke dalam tubuhnya, ia telah terlebih dahulu dipanggil Yang Kuasa. Allah SWT lebih mencintainya, dan memanggil almarhumah pada hari Rabu, 24 Oktober 2007, pkl. 12.30, tepat dua hari setelah ia dioperasi.

Kini ia telah tiada dalam usia 27 tahun, meninggalkan seorang suami dan anak yang bernama Faruq Abdullah Taqiyuddin At-Tirmidzi (6 tahun). Namun, perjuangannya masih tetap hidup karena upaya keras dalam da’wah yang telah menghidupkan jiwa-jiwa yang tadinya mati dan perjuangannya tetap dikenang. Dia seorang pengemban da’wah yang istiqomah, tegar dan gigih, serta termasuk sukses dalam mengopinikan Syari’ah dan Khilafah di tengah-tengah masyarakatnya. Tiga desa telah ia rambah, Nangtung, Ciwaru dan Jamban. Daerah yang dahulu dikenal dengan kejumudan bahkan kemusyrikan, kini ia warnai dengan cahaya Islam. Banyak orang di daerah tersebut yang sempat bergabung dengan Hizbut Tahrir bersamanya, mengarungi sulitnya medan da’wah di sana.

Semangat mereka pun tak kalah tingginya dari orang yang telah memperkenalkan da’wah Islam terhadap mereka. Walaupun lama waktu yang harus dilalui untuk memperkenalkan da’wah sekitar dua tahun! Dapat dibayangkan bagaimana kegigihan almarhum saat mengetahui bahwa mad’u-nya adalah orang-orang desa yang sama sekali awam terhadap ajaran Islam, bahkan cenderung dekat dengan syirik; hanya tamatan SD; buta huruf arab, bahkan membaca huruf latin pun tidak lancar. Tidak hanya itu saja, medan yang harus dilalui umtuk setiap kali berkunjung ke tengah-tengah mereka adalah dengan melalui jalan yang mendaki, Namun, dengan tak kenal lelah almarhumah bersedia membimbing mereka hingga saat ini mereka tercatat sebagai daarisah di Hizbut Tahrir, dan siap melanjutkan da’wah sebagaimana yang telah dirintis sebelumnya.

Tantangan da’wah yang ia hadapi tidaklah sedikit. Terbukti semenjak almahumah masih tercatat sebagai siswa SMEA (th 1999), ia sudah harus berhadapan dngan sistem yang menzaliminya dan berupaya dengan keras untuk tetap mempertahankan keyakinannya, mengenakan busana yang wajib bagi muslimah, Jilbab. Demikian juga dengan masyarakat di sekitarnya, tidak sedikit yang mencibir, menolak, mengejek, bahkan pernah tidak dibukakan pintu sama sekali tatkala hendak menyeru orang-orang ke dalam Islam.

Namun, kondisi itu kini telah berbalik hampir 180 derajat. Orang-orang justru menangisi kepergiannya, bahkan ada yang menyesali karena pernah menolak ide yang pernah disampaikannya. Sosok pengemban da’wah telah melekat dalam dirinya. Namun, bukan dalam urusan da’wah saja, ia pun menjadi tauladan dalam kesehariannya.

Terbukti dari kesehariannya yang amat bersahaja, hampir tiap hari ia bangun sejak dini hari, dan usai shalat Tahajjud ia menyelesaikan urusan rumah tangganya. Sehinga tidak heran jika hampir semua reken-rekannya yang pernah mengunjungi rumahnya jarang menemui kondisi rumah dalam keadaan kotor ataupun berantakan, selalu dalam keadaan rapi. Karena disamping harus menyelesaikan tugasnya yang lain, ia telah mengagendakan aktivitas da’wahnya, bahkan tak jarang ia baru pulang ke rumah menjelang maghrib. Semua itu ia lakukan atas ijin dan ridlo dari suami yang mendukung ia sepenuhnya.

Rupanya, amal shalehnya sebagai Ummu wa Robbatul bait pun telah mengantarkannya membimbing putranya menjadi anak yang shaleh. Saat sang Ayah memberitahukan bahwa Umminya telah pergi dan tidak akan kembali lagi, sang anak justru menjawab : “Ga apa-apa Umi pergi, kan ada Abi. Nanti juga Aab (panggilannya) bisa ketemu Umi di syurga”…

Akhirnya, kami sahabat-sahabatnya tak ingin mengatakan salam perpisahan, namun semoga Allah SWT dapat mempertemukan kami di syurga kelak, amiin. Ukhti, semoga ukhti termasuk seperti dalam firman Allah SWT : “…Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menemuinya, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah….” (TQS. An-Nisaa : 100).

Atas nama sahabatmu,

U. Hakimah dan Afifah

malu ya… belum banyak yang saya lakukan untuk ISLAM

Leave a comment »

Satu yang kadang terlupa

Cerita ini selalu membuat saya sedih kalo mengingatnya. Apalagi cerita ini baru saja terjadinya. Masih di bulan Maret di tahun 2008. Cerita tentang salah satu sahabat saya. Yg begitu tegar menghadapi ujian menjelang perikahannya hingga hari H pernikahnnya. Tapi sebelumnya saya ingin mendoakan pernikahan mereka dahulu « Barakallahulaka wabaroka ‘alaika wajama’a bainakuma fii khairin » sabar ya ukhti, sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan……

Kami bersahabat sudah sangat lama, tepatnya sejak kepindahan dia ke sebelah rumah saya. Walaupun usianya 2 tahun lebih tua dari saya, tetapi di setiap permainan saya selalu menjadi ketuanya, mungkin karena saya lebih mengetahui seluk beluk kampung ini dibandingkan dia yang tetangga baru. Satu permainan yang saya tidak bisa jadi ketua adalah, memakan jambu di atas pohon. Nyerah dech kalo udah urusan manjat memanjat. Jangankan untuk naik ke atas pohon, naek ke atas pagar ajah kaki ini udah gemetaran. Walhasil tinggalah saya di bawah untuk menunggu ada yang berbaik hati membagi jambunya dengan saya. Jambu sich tidak begitu membuat saya iri (karena kebetulan jambunya juga banyak ulet nya hehe….) tapi cerita mereka itu lho… yang katanya bisa melihat gedung DPRD dari atas pohon jambu itu selalu membuat saya penasaran. Eh, mei keliatan lho gedung DPRD dari sini, wah asyik banget… mobil bis juga bisa kelihatan kata mereka. Ya.. ya… saya cuma bisa bilang begitu karena gak bisa ikut menikmati gedung bertingkat yang lumayan bagus pada masa saya kecil. Gedung DPRD itu punya kolam ikan yang ikannya lumayan banyak, setiap hari minggu bapak selalu mengajak jalan-jalan untuk ngasih makan ikan di kolam itu. Seneng banget…….

Ternyata waktu berlalu tidak terasa, mirip teori relativitasnya einstein kita kadang tidak merasakan perubahan waktu yang langsung kita alami, tapi orang-orang di sekitar kita yang akan merasakannya. Pernah gak denger komentar, ‘wah, udah besar ya sekarang, tingginya udah sama kaya ibunya/bapaknya’…. kita yang di bilangin sich biasa-biasa aja tapi orang yang melihat, mereka merasakan perubahan usia, bentuk tubuh dan lain-lain dari diri kita. Tidak terasa juga sahabat saya itu kemarin telah melangsungkan pernikahannya. Dan sayapun menyempatkan untuk pulang kampung menghadiri pernikahannya.

Pesta yang meriah menurut saya, bahkan di lakukan 2 hari. Wuih… saya aja yang bantu-bantu merasa capek, apalagi si pengantin ya, pasti lebih capek. Tapi ada yang membuat saya sangat tersentuh. beberapa hari sebelum pernikahan biasanya ada adegan serah-serahan. Pihak laki-laki menghantarkan beberapa barang-barang ke pihak wanita. Saya tidak begitu faham tentang serah-serahan ini. Yang pasti sebenarnya ritual ini tidak wajib, hanya saja menjadi kebiasaan masyarakat sekarang. Apa yang di bawa waktu serah-serahan juga tidak harus ini atau itu. Tapi kadang tradisi mengharuskan membawa ini dan itu, karena untuk keyakinan tertentu. Sebenarnya memberikan hadiah dalam islam sah-sah saja, apapun bentuknya, berapapun harganya syaratnya hanya memberikannya dengan ’ikhlas’, dan pihak yang menerima syaratnya juga satu ’syukur’ atas nikmat Allah SWT kepada kita. Sedangkan membawa barang-barang yang wajib maka tidak ada dalam ISLAM, apalagi kalo barang-barang tersebut mengandung makna tertentu. STOP jangan sampai ibadah ini ternodai.
Pihak laki-laki teman sayapun membawa serah-serahan. Ada beberapa keranjang yang saya lihat waktu saya menemani pengantin perempuan H-1 sebelum ijab qobul. Menurut saya sich bagus-bagus, karena ya itu tadi syukur, karena Allah telah memberi nikmat, tidak melihat bagaimana bentuk dan isinya. Tapi sahabat saya menangis ketika menceritakan tentang serah-serahan itu. Ukhti itu mengatakan bahwa setelah calon mempelai putranya pulang maka si ibu mulai membongkar-bongkar semua isi serah-serahan, terlihat seperti mencari-cari sesuatu. Ternyata benar, si ibu sedang mencari-cari seperangkat perhiasaan yang diminta sebagai salah satu syarat hantaran. Mendapati syarat yang di minta si ibu tidak ada maka ibunya langsung marah-marah, seperti orang yang tak sadarkan diri. Saya beristighfar dalam hati mendengar cerita sahabat saya tersebut, sungguhlah seorang ibu adalah sosok yang mulia, tetapi adakalanya ke khilafan membutakan beliau sementara. Keinginan mendapatkan menantu yang kaya atau paling tidak keturunan orang terpandang masih mendomonasi benaknya. Kemudian sahabat saya menelepon kakak dari calon suaminya, dia mengatakan ’mbak, tolonglah di carikan emas yang ibu minta, bagaimana caranya tolong diusahakan dulu agar ibu disini tidak marah-marah’. Sahabat saya itu bersikap seperti itu agar ibunya tenang terlebih dahulu. Kakaknya pun berusaha mencarikan dengan berbagai cara. Saya tertegun, dan hampir menangis di hadapannya ketika mendengar ceritanya, tetapi harus terlihat lebih tegar sambil terus mengusap-usap punggung sahabat saya itu. Saya mengenal sahabat saya, dia seorang anak yang baik, dan sangat sayang sama ibunya, hanya saja kadang kurang berani menyampaikan isi hatinya. Sehingga peasaannya kadang tercurah dalam air mata. Sahabat saya juga mengatakan kepada calon suaminya, ’mas, tolong carikan cincin untuk besok, yang tipis juga tidak mengapa yang penting ibu tidak kecewa(marah-marah)’.

Subhanalloh, saya terasa terhanyut dan ikut merasakan semua perasaan sahabat saya itu. Saya merasa ingin sekali menemaninya setiap hari, menguatkannya, tapi bagaimanapun saya harus kembali ke jogja. Menyelesaikan amanah saya untuk belajar disana, meneruskan dakwah saya disana. dari Jogja doa untuk sahabatku terus mengalir, agar Allah membukakan hati kedua orang tuanya, dan menguatkan keduanya sahabat saya dan suaminya dan juga memudahkan mereka dalam tantangan-tantangan kehidupan kedepannya. Tidak lupa juga saya menghadiahi sebuah buku, yang semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi mereka. Karena amal tanpa ilmu bisa salah, ilmu tanpa amal juga akan sia-sia. Satu hal yang saat ini kadang terlupakan. Janganlah malu ketika kita mendapatkan mahar yang tidak seberapa ingatlah bahwa sesungguhnya wanita yang paling mulia adalah yang mudah untuk menikahinya dan murah juga maharnya. (mudah menikahinya maksudnya tidak mempersulit dengan syarat-syarat yang berat ketika akan menikah misalnya minta buatkan candi 1000 buah kaya Roro Jonggrang hehehe….) bahkan syaidina Ali menikahi Fatimah dengan Mahar seharga baju besinya (karena syaidina Ali menjual dulu baju besinya untuk dijadikan mahar). Bahkan Rosululloh juga membolehkan ketika seseorang yang sudah siap menikah tapi tidak mempunyai mahar untuk di berikan kepada calon istrinya, maka rosululloh memrintahkan untuk mencari walaupun hanya dengan sebuah cincin dari besi, bila tidak mendapati juga maka hafalan apa yang kau punya dan akan kau ajarkan kepada istri kelak. Subhanalloh….. jangan terjebak hiasan dunia wahai saudariku semua. Sesungguhnya hiasan dunia itu hanyalah fatamorgana. Wallahu’alam bi showab

2 Comments »

I love U “papa”

Hari ini bapak tepat berusia 53 tahun. Bukan usia yang muda lagi. Bagi saya beliau adalah sosok yang hebat. Sosok yang sangat tegar, bahkan sosok yang sangat saya kagumi. Sosok yang sangat lemah lembut tapi tetap tegas, sosok yang sangat tawadu’ dan bersahaja. Seingat saya bapak tidak pernah memarahi saya. Memukul apalagi, berkata kasar saja tidak pernah. Beliau mendidik tanpa kekerasan, tapi bisa membentuk keteguhan dan ketegaran dalam diri ini. Bahkan saya tidak berani sama sekali dengan beliau, berbicara dengan beliaupun disusun begitu rapi dan santun agar tidak menyakiti beliau.

Pa… afwan jiddan kalo belum banyak yang bisa mb imay lakukan untuk papa. Thesis aja belum kelar-kelar :’(. Tapi semoga Allah selalu menjaga papa dalam kebaikan dan rahmatNya, memberikan umur yang barokah, melindungi dengan kasih sayangNya. Menjaga papa dalam perlindunganNya yang Maha Sempurna. Doakan mbak imay agar bisa menjadi anak yang sholehah, doakan juga dalam setiap kebaikan. Amin….

“Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran”
Artinya :
“Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil”

Leave a comment »

Cinta Putih

artikel ini saya temukan ketika saya sudah bosan di depan matlab untuk menyelesaikan amanah thesis ini. untuk refreshing maka saya bongkar2 si fathonah (laptop saya) dan ketemu artiekl menarik ini dalam kumpulan e-book artikel. ceritanya sangat menarik. mengingatkan kita akan hal-hal kecil yang kadang terlupakan oleh kita…. semoga ada ibroh yang dapat kita ambil… selama membaca…

Oleh Bayu Gawtama

2 Jan 06 12:46 WIB

“Ini siapa yang makan kue tidak dihabiskan?” tanya saya kepada isteri malam itu. Di meja makan, terdapat sepotong kue yang tak habis termakan. “Itu potongan untuk Abang. Anak-anak dapat kue dari tetangga siang tadi, tapi mereka ingin membaginya untuk, Abi,” jelas isteri saya. “Ini Hufha, ini buat dede Iqna, ini Ummi, dan ini buat Abi,” begitu katanya setelah memotong empat bagian kue itu. Anak-anak sudah tidur, semoga dalam mimpinya mereka melihat saya menikmati kue yang sengaja disisakannya. Saya selalu ingat setiap kali anak-anak mendapatkan kue atau makanan enak lainnya, mereka tak lupa menelepon saya di kantor untuk sekadar memberitahu kalau saya tak perlu khawatir, karena mereka akan menyisihkannya untuk saya.

Pagi hari, pertanyaan pertama anak-anak adalah, “Kuenya dimakan nggak, bi?”

***

Saya pernah diprotes isteri karena pulang terlambat. Padahal sebelumnya saya sudah berjanji untuk mengajak mereka jalan-jalan ke mall. Setiap akhir bulan, anak-anak sudah hafal betul jadwal belanja bulanan kami. Meski masih terlalu kecil, mudah bagi mereka menandakan waktunya belanja bulanan. Jika persediaan susu mereka sudah menipis, itulah waktunya belanja. Saya menjanjikan akhir pekan ini akan mengajak mereka berbelanja, itu yang membuat mereka rela menahan kantuk tidak tidur siang karena takut ditinggal. Walaupun waktu belanja kami biasanya sesudah maghrib, sejak jam 16.00 anak-anak itu sudah cantik dengan baju pilihan mereka sendiri. Tapi, hari itu saya membuatnya kecewa. Pukul 21.15 malam saya baru tiba di rumah dan mendapati kedua anak saya terlelap di sofa masih lengkap dengan baju bagus, sepatu dan jilbab yang tak lepas.

Pagi hari, mereka tak marah. “Hari ini kerja nggak? Pulangnya jangan malam-malam ya, kan sudah janji mau ke Mall,” Saya tak berani berjanji, tapi saya akan menepatinya. Sungguh.

***

“Mi, nanti kalau abi pulang bangunin ya,” pesan anak pertama saya yang ingin membanggakan lima bintang yang diterimanya hari ini untuk pelajaran melukis di sekolah. Cerita isteri saya, sejak pulang sekolah kertas hasil lukisannya itu selalu dibawa-bawa dan tak boleh disentuh siapapun. Tak satu pun yang boleh melihatnya sebelum saya melihatnya dan mengatakan, “Duuh pinternya cantik abi.” Setelah mandi sore, tercatat sebelas kali ia bertanya jam berapa saya pulang. Selepas Maghrib, entah untuk keberapa kali ia bertanya, “Abi kok belum pulang sih?” tentu saja dengan kertas lukisan masih di tangannya. Ia pun berjaga-jaga di sofa menunggu kepulangan saya, agar apa yang saya dapatkan begitu membuka pintu adalah wajah cerianya sambil menunjukkan lima bintang di kertas lukisannya.

Yang dinanti tak kunjung tiba. Kantuk pun tak kuasa ditahannya, lima bintang pun ikut terlelap dalam dekapannya. Hari masih terlalu dini, ia sudah bangun membawa kertas lukisannya ke kamar saya. Matanya masih terlihat mengantuk ketika ia menggugah saya, “Bi, sudah lihat gambar Hufha? Dapat bintang lima nih.”

***

Pekerjaan saya saat ini banyak menyita waktu yang semestinya merupakan waktu untuk keluarga. Tak jarang mereka protes dengan kalimat, “Kerja melulu, kapan liburnya?” Ya, saya sering merasa bersalah setiap harus pergi untuk urusan pekerjaan di hari libur. Terlebih ketika harus membatalkan acara yang sudah direncanakan jauh hari. Cara mereka mengingatkan saya akan teramat banyak hutang kehadiran saya untuk mereka cukup unik, yakni dengan menyebut jumlah dongeng yang belum saya lakukan. Kalau saya pergi tiga hari, maka di malam saya menemani tidurnya, mereka akan minta saya merapel cerita jadi empat. Satu jatah malam ini, tiga cerita adalah untuk hari yang terlewati tanpa dongeng.

Kalau pun saya terlalu lelah untuk empat dongeng malam itu, mereka pun tak marah. Hanya saja, “Tapi besok jadi lima, ya.”

***

Hari Minggu kemarin, saya baru pulang ke rumah pukul 20.30 malam. Siang harinya saya berjanji untuk pulang sore dan mengajak mereka beRp-putar dengan motor. Senja hampir tiba, mereka masih yakin saya akan segera pulang. Karenanya mereka menunggu saya sambil bersembunyi. Rupanya, mereka berniat mengejutkan saya dari balik pintu. Malam sudah tiba, anak-anak masih di balik pintu, kali ini mereka tak berdiri, tapi sudah duduk. Mungkin lelah menunggu. Waktu terus berjalan, sampai mereka pun terlelap di balik pintu, tak peduli kata-kata umminya bahwa saya akan terlambat pulang. “Nggak, Abi bilang sebentar kok perginya,” ujar si kecil.

***

Terlalu sering saya membuat anak-anak kecewa. Namun tak pernah saya mendapatkan wajah cemberut mereka meski saya tak tahu lagi dengan cara apa mengucap maaf. Tanpa meminta maaf pun, ternyata mereka sudah lebih dulu memaafkan. Mestinya saya belajar mencinta seperti mereka, dan cinta punya mereka adalah cinta yang putih. Seputih hatinya.

sumber : Bayu Gawtama <http://gawtama. blogspot. com>

4 Comments »

calon bidadari surga

calon bidadari surga

Siapakah anak-anak yang paling pemberani saat ini???

mungkin jawaban yang paling tepat adalah anak-anak palestina. betapa tidak mungkin dari pertama kali lahir mereka sudah terbiasa mendengarkan dentuman peluru. Di antara suara adzan dan iqomah yang dikumandangkan oleh ayah mereka.

pernah nonton VCD yang judulnya “anak-anak pengukir sejarah dengan darah?” subhanalloh….. mereka benar2 anak-anak yang hebat. VCD itu jadi VCD favorite saya yang akan setel ketika saya mulai menjadi seseorang yang penakut.

tidak peduli mereka laki-laki atau perempuan mereka semua sangat lantang untuk membela tanah islam yaitu palestina. bahkan ibu-ibu mereka pun tidak pernah ragu-ragu untuk mengikhlaskan anak-anak mereka syahid sebagai syuhada. Subhanalloh….

tidak malukah kita yang berada disini??? anak-anak itu berteriak memanggil kita. saudara-saudaranya yang seiman. Mereka merasa berjuang sendirian. Tak takutkah kita bila kelak di akhirat nanti ketika kita menghadap Allah SWT, mereka menanyakan kepada kita di hadapan Allah SWT ”dimana kalian wahai saudaraku disaat kami memperjuangkan tanah islam?”. apa jawab kita di hadapan Rabb kita??

tidak malukah kita yang masih asyik dengan tontonan2an yang sangat murahan, sedangkan mereka tidak sempat lagi untuk sekedar melihat televisi untuk menyetel film kartun yang sedikit membuat mereka tertawa. bukan itu yang mereka perlukan….. tawa mereka ketika orang2 israel berlarian tunggang langgang ketakutan di hujani batu-batu dari reruntuhan rumah2 mereka. tawa mereka melihat pasukan israel ketakutan setiap suara adzan dan pekikan takbir digemakan. senyum mereka adalah ketika kemenangan islam muncul kembali dan palestina negeri islam terbebaskan….

wahai anak-anak palestina….. calon bidadari-bidadari surga……

 

8 Comments »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.