Satu yang kadang terlupa

Cerita ini selalu membuat saya sedih kalo mengingatnya. Apalagi cerita ini baru saja terjadinya. Masih di bulan Maret di tahun 2008. Cerita tentang salah satu sahabat saya. Yg begitu tegar menghadapi ujian menjelang perikahannya hingga hari H pernikahnnya. Tapi sebelumnya saya ingin mendoakan pernikahan mereka dahulu « Barakallahulaka wabaroka ‘alaika wajama’a bainakuma fii khairin » sabar ya ukhti, sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan……

Kami bersahabat sudah sangat lama, tepatnya sejak kepindahan dia ke sebelah rumah saya. Walaupun usianya 2 tahun lebih tua dari saya, tetapi di setiap permainan saya selalu menjadi ketuanya, mungkin karena saya lebih mengetahui seluk beluk kampung ini dibandingkan dia yang tetangga baru. Satu permainan yang saya tidak bisa jadi ketua adalah, memakan jambu di atas pohon. Nyerah dech kalo udah urusan manjat memanjat. Jangankan untuk naik ke atas pohon, naek ke atas pagar ajah kaki ini udah gemetaran. Walhasil tinggalah saya di bawah untuk menunggu ada yang berbaik hati membagi jambunya dengan saya. Jambu sich tidak begitu membuat saya iri (karena kebetulan jambunya juga banyak ulet nya hehe….) tapi cerita mereka itu lho… yang katanya bisa melihat gedung DPRD dari atas pohon jambu itu selalu membuat saya penasaran. Eh, mei keliatan lho gedung DPRD dari sini, wah asyik banget… mobil bis juga bisa kelihatan kata mereka. Ya.. ya… saya cuma bisa bilang begitu karena gak bisa ikut menikmati gedung bertingkat yang lumayan bagus pada masa saya kecil. Gedung DPRD itu punya kolam ikan yang ikannya lumayan banyak, setiap hari minggu bapak selalu mengajak jalan-jalan untuk ngasih makan ikan di kolam itu. Seneng banget…….

Ternyata waktu berlalu tidak terasa, mirip teori relativitasnya einstein kita kadang tidak merasakan perubahan waktu yang langsung kita alami, tapi orang-orang di sekitar kita yang akan merasakannya. Pernah gak denger komentar, ‘wah, udah besar ya sekarang, tingginya udah sama kaya ibunya/bapaknya’…. kita yang di bilangin sich biasa-biasa aja tapi orang yang melihat, mereka merasakan perubahan usia, bentuk tubuh dan lain-lain dari diri kita. Tidak terasa juga sahabat saya itu kemarin telah melangsungkan pernikahannya. Dan sayapun menyempatkan untuk pulang kampung menghadiri pernikahannya.

Pesta yang meriah menurut saya, bahkan di lakukan 2 hari. Wuih… saya aja yang bantu-bantu merasa capek, apalagi si pengantin ya, pasti lebih capek. Tapi ada yang membuat saya sangat tersentuh. beberapa hari sebelum pernikahan biasanya ada adegan serah-serahan. Pihak laki-laki menghantarkan beberapa barang-barang ke pihak wanita. Saya tidak begitu faham tentang serah-serahan ini. Yang pasti sebenarnya ritual ini tidak wajib, hanya saja menjadi kebiasaan masyarakat sekarang. Apa yang di bawa waktu serah-serahan juga tidak harus ini atau itu. Tapi kadang tradisi mengharuskan membawa ini dan itu, karena untuk keyakinan tertentu. Sebenarnya memberikan hadiah dalam islam sah-sah saja, apapun bentuknya, berapapun harganya syaratnya hanya memberikannya dengan ’ikhlas’, dan pihak yang menerima syaratnya juga satu ’syukur’ atas nikmat Allah SWT kepada kita. Sedangkan membawa barang-barang yang wajib maka tidak ada dalam ISLAM, apalagi kalo barang-barang tersebut mengandung makna tertentu. STOP jangan sampai ibadah ini ternodai.
Pihak laki-laki teman sayapun membawa serah-serahan. Ada beberapa keranjang yang saya lihat waktu saya menemani pengantin perempuan H-1 sebelum ijab qobul. Menurut saya sich bagus-bagus, karena ya itu tadi syukur, karena Allah telah memberi nikmat, tidak melihat bagaimana bentuk dan isinya. Tapi sahabat saya menangis ketika menceritakan tentang serah-serahan itu. Ukhti itu mengatakan bahwa setelah calon mempelai putranya pulang maka si ibu mulai membongkar-bongkar semua isi serah-serahan, terlihat seperti mencari-cari sesuatu. Ternyata benar, si ibu sedang mencari-cari seperangkat perhiasaan yang diminta sebagai salah satu syarat hantaran. Mendapati syarat yang di minta si ibu tidak ada maka ibunya langsung marah-marah, seperti orang yang tak sadarkan diri. Saya beristighfar dalam hati mendengar cerita sahabat saya tersebut, sungguhlah seorang ibu adalah sosok yang mulia, tetapi adakalanya ke khilafan membutakan beliau sementara. Keinginan mendapatkan menantu yang kaya atau paling tidak keturunan orang terpandang masih mendomonasi benaknya. Kemudian sahabat saya menelepon kakak dari calon suaminya, dia mengatakan ’mbak, tolonglah di carikan emas yang ibu minta, bagaimana caranya tolong diusahakan dulu agar ibu disini tidak marah-marah’. Sahabat saya itu bersikap seperti itu agar ibunya tenang terlebih dahulu. Kakaknya pun berusaha mencarikan dengan berbagai cara. Saya tertegun, dan hampir menangis di hadapannya ketika mendengar ceritanya, tetapi harus terlihat lebih tegar sambil terus mengusap-usap punggung sahabat saya itu. Saya mengenal sahabat saya, dia seorang anak yang baik, dan sangat sayang sama ibunya, hanya saja kadang kurang berani menyampaikan isi hatinya. Sehingga peasaannya kadang tercurah dalam air mata. Sahabat saya juga mengatakan kepada calon suaminya, ’mas, tolong carikan cincin untuk besok, yang tipis juga tidak mengapa yang penting ibu tidak kecewa(marah-marah)’.

Subhanalloh, saya terasa terhanyut dan ikut merasakan semua perasaan sahabat saya itu. Saya merasa ingin sekali menemaninya setiap hari, menguatkannya, tapi bagaimanapun saya harus kembali ke jogja. Menyelesaikan amanah saya untuk belajar disana, meneruskan dakwah saya disana. dari Jogja doa untuk sahabatku terus mengalir, agar Allah membukakan hati kedua orang tuanya, dan menguatkan keduanya sahabat saya dan suaminya dan juga memudahkan mereka dalam tantangan-tantangan kehidupan kedepannya. Tidak lupa juga saya menghadiahi sebuah buku, yang semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi mereka. Karena amal tanpa ilmu bisa salah, ilmu tanpa amal juga akan sia-sia. Satu hal yang saat ini kadang terlupakan. Janganlah malu ketika kita mendapatkan mahar yang tidak seberapa ingatlah bahwa sesungguhnya wanita yang paling mulia adalah yang mudah untuk menikahinya dan murah juga maharnya. (mudah menikahinya maksudnya tidak mempersulit dengan syarat-syarat yang berat ketika akan menikah misalnya minta buatkan candi 1000 buah kaya Roro Jonggrang hehehe….) bahkan syaidina Ali menikahi Fatimah dengan Mahar seharga baju besinya (karena syaidina Ali menjual dulu baju besinya untuk dijadikan mahar). Bahkan Rosululloh juga membolehkan ketika seseorang yang sudah siap menikah tapi tidak mempunyai mahar untuk di berikan kepada calon istrinya, maka rosululloh memrintahkan untuk mencari walaupun hanya dengan sebuah cincin dari besi, bila tidak mendapati juga maka hafalan apa yang kau punya dan akan kau ajarkan kepada istri kelak. Subhanalloh….. jangan terjebak hiasan dunia wahai saudariku semua. Sesungguhnya hiasan dunia itu hanyalah fatamorgana. Wallahu’alam bi showab

About mei allif

Assalamu'alaikum... perkenalkan... saya adalah saudarimu. saya bersyukur sebagai hamba Allah SWT, dan menjadikan ridhoNya adalah kebahagian saya. Syahid adalah cita-cita saya tertinggi. dan melihat Kemulian/kemenangan Islam kembali menjadi penyejuk pandangan mata ini. semoga dlm blog ini qt dapat semakin mengikat ukhuwah islamiyah, dan menambah keilmuan qt juga saling mengingatkan "wa tawasaubil haq, wa tawasaubil sobr"
This entry was posted in curhat. Bookmark the permalink.

2 Responses to Satu yang kadang terlupa

  1. anjun says:

    ya ya mei. sekarang mah malah kayaknya yang bisa kasi mahar yang paling banyak, paling mahal adalah yang paling bagus. segalanya diukur dari materi. harus ada ini itu. semoga pernikahannya bisa langgeng dan di berkahi Allah SWT. Amin

  2. mei allif says:

    hehe… iya njun…

    mau mahar apa nich ntar kalo nikah🙂
    eh.. mahar itu juga wujud dakwah (syiar islam) lho…. misalnya didaerah tertentu yg memakai jilbab dan kerudung masih belum biasa. maka kita bisa saja minta mahar jilbab dan kerudung biar orang2 pada penasaran apa sich jilbab dan kerudung hehehe…..

    apapun mahar kita nanti, jangan sampai memberatkan pihak laki-laki ya… ingatlah sebaik2nya wanita adalah yang mudah menikahinya dan murah maharnya.. amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s