Perbincangan 100 Km

Sore itu kami berempat, malaju dari Semarang menuju Pekalongan. Kebetulan jalan di daerah Semarang menuju Kendal agak sedikit rusak (sedikit?? Banyak kale !!!). Agar suasana jadi santai karena jalan yang macet, teman sekantor bapak mulai mengomentari kemacetan ini. ”Wah… kok bisa ya galian nya gak di tutup sempurna kaya gitu? Makanya jadi macet kaya gini!!!”. saya hanya diam melihat obyek yang dikomentari. Wah..wah.. ini mah dzolim namanya, saya lihat banyak pengendara sepeda motor yang kesusahan melewati jalanan yang tidak rata dan bersusah payah pula menghindari becek (mana hujan, becek, gak ada ojek hehehe….slogannya si cinta laura) akibat hujan yang menggenang di galian yang gak rata itu. Ingatan saya terbayang pada buku terakhir yang saya baca judulnya tarikh khulafa karangan imam Syuyuthi, disana diceritakan tentang salah satu kholifah yang bernama umar bin abdul aziz, seorang kholifah dari bani Umayah yang mempunyai catatan emas. Beliau selalu saja tidak tenang tidurnya memikirkan rakyatnya, beliau sangat khawatir jangan sampai ada keledai yang terjerembab kedalam lubang. Subhanalloh, keledai ajah dipikirin, lha sekarang ini yang terjerembab dalam lubang tidak hanya keledai tapi manusia saking banyaknya jalan yang bolong. MasyaAllah……

***

Bapak yang sedang nyupir malah lebih asyik mengomentari para pemakai motor yang nekat ambil jalan melawan arus di jalur sebelahnya. ”lihat tuch pengendara motornya nekat banget ya?”. sayapun jadi ikut melihat ke arah motor yang di tunjuk bapak. Heheh… iya emang nekat tuch pengendara motor, dia sedang menaikkan motornya ke pembatas tengah jalan dengan susah payah agar berhasil masuk ke jalur yang berlawanan arah. Orang kalo lagi buru-buru ada ajah usahanya. Ternyata tindakkan nekat pengendara motor tadi diikuti oleh motor-motor yang lain. Kalo saya lebih tertarik memperhatikan sepasang suami istri yang sedang naik motor dengan bayi yang masih sangat kecil di gendongan ibunya. Saya perkirakan usia bayi itu mungkin baru 2 bulan. Tapi dalam benak saya merasa kasihan dengan sang bayi yang harus menghirup udara kotor polusi dari beberapa knalpot yang sudah tidak memenuhi standar (hehe… jadi inget suara knalpot motor saya. knalpot saya hanya mengeluarkan suara yang nge BASS banget, tapi asepnya gak item kok ^_^). Polusi memang jadi permasalahan di negeri ini, belum lagi penebangan hutan, ilegal loging, banjir, kelaparan, flu burung, kurang gizi, penganiayaan TKW, import sampah dari Singapura, Korupsi, pengangguran, kriminal dll wah…. ternyata banyak banget permasalahan negeri ini. Penumpang mobil satunya??? Si adek,…Adek saya cuma kedap kedip nahan kantuk. Karena perjalan kami berdua di mulai dari Jogja.

***

Perjalanan masih panjang, akhirnya bapak tertarik membicarakan kegiatan saya tadi pagi. Gimana demonya kata bapak? Bukan Demo pak, tapi matsiroh…!!! ooo, bedanya apa? tanya bapak. Kalo Demo itu kalo dalam kamus artinya aksi yang cenderung akan menggunakan kekerasan. Sedangkan matsiroh adalah aksi untuk menyeru kepada umat tanpa kekerasan… keliatannya bapak belum faham, mungkin menurut beliau ah sama ajah… bingung ya pak?? Kalo yang lebih jelas itu bedanya DEMO ama AKSI!!… nah kalo itu apa bedanya tanya bapak semakin penasaran, bedanya kalo DEMO rodanya tiga kalo AKSI rodanya empat hehehe…. (saya tahu agak sedikit jayus, tapi biar bapak gak kepikiran ttg beda matsiroh dan demo tadi terpaksa dech pake senjata handalan ”ngeles”). Aksinya tentang apa mbak??? Tentang Aksi keprihatinan terhadap kondisi Indonesia pak, jawabaku. Bapak khan lihat sendiri kondisi bangsa ini seperti apa? Kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit, tingginya harga sembako, dll. Prihatin banget khan pak, padahal kita khan katanya negeri kaya, terus pada kemana kekayaan itu??. Terus sholusinya apa mbak?? SYARIAT ISLAM, jawabku mantap… 

Tiba-tiba ajah temen bapak komentar (beliau dari tadi diem ajah) yang membuat saya cukup kaget juga, apalagi suaranya juga agak ngebass kenceng. Wah, kalo solusinya syari’at islam saya gak setuju. Kenapa om? Tanyaku….. Ya Indonesia khan bukan negara Islam, sedangkan kita juga terdiri dari beragam agama dan suku bangsa. Masuk akal juga sich pernyataan temen bapak ini. Om, berbeda itu fitrah, karena Allah ciptakan manusia bersuku-suku. Memeluk Islam juga fitroh, karena fitroh seorang makhluk adalah menemukan Tuhan yang Esa yaitu Allah menemukan kebenaran, berari fitrohnya semua orang adalah Islam. Dalam negera Islamlah satu2nya sistem yang tidak mengenal istilah Mayoritas dan Minoritas. Sekarang negara mana sich yang tidak mengenal istilah mayoritas dan minoritas ??? keliatannya gak ada dech. Amerika saja yang katanya bapaknya kebebasan ajah masih mengenal istilah mayorits dan minorits. Tapi dalam negera islam (negara yg diatur dengan sistem Islam) tidak ada istilah Mayoritas dan Minoritas, semua sama statusnya sebagai warga negara daulah yang mendapatkan pelayanan dari daulah. Hal ini sich yang kebanyakkan tidak diketahui oleh kaum muslimin ini sendiri. Hmm… iya ya?? Wah saya takut denger syariat Islam ternyata karena saya tidak tahu apa itu syariat Islam kata temen bapak. Alhamdulillah….. tugas ana menyimpulkan sudah diambil alih oleh beliau sendiri. Ya, Allah sesungguhnya Engkaulah yang Maha Membolak balikkan hati manusia.

***

Perbicangan tentang seputar syariat islam terus asyik sampai ke daerah Weleri. Kami bertiga diskusi tentang islam sangat seru dan asyik. Adek saya??? Masih sebagai pendengar setia . Pak, kalo di kantor sering ada kajian gak sich?? Sering, sehabis dzuhur jawab beliau. Kalo saya sich gak tahu, saya jarang ikut sich, malesss temen bapak nyambung ke pembicaraan kami. Kalo papah nich rajin mb mei, kata beliau sambil menyanjung bapak. Ah, enggak juga. Kalo saya sedang sibuk dan tidak tergantikan saya tidak ikut tapi saya akan merasa sangat bersalah bila tidak ikut kajian ketika waktu saya luang atau tidak ada pekerjaan, . Wah… jawaban bapak membuat saya tertegun juga. Hmmm…. iya ya, banyak dari kita yang merasa biasa-biasa saja jika tidak mengkaji islam, padahal juga gak sedang dalam keadaan sibuk. Yach.. waktu luangnya di gunakan untuk aktivitas yang kurang berguna. Dan parahnya ya itu … tidak merasa bersalah…. saya jadi teringat ketika mengajakin temen2 datang ke kajian kalo sedang di kampus. Banyak temen2 yang tidak merasa bersalah ketika tidak datang ke kajian ilmu padahal mereka sedang luang….

***

Akhirnya sampai juga di Pekalongan, perjalanan 100km kami menuang banyak ilmu dan pelajaran, baik bagi saya, temen bapak, ataupun bapak. Adek saya??? Dia masih tetap setia mendengarkan… semoga jadi penyemangat adek untuk juga tertarik dengan Islam dan mengkajinya. Amin… agar perjalanan selanjutnya mbak dan adek yang akan menyuarakan islam di tengah-tengah keluarga kita dan juga masyarakat. Amin

About mei allif

Assalamu'alaikum... perkenalkan... saya adalah saudarimu. saya bersyukur sebagai hamba Allah SWT, dan menjadikan ridhoNya adalah kebahagian saya. Syahid adalah cita-cita saya tertinggi. dan melihat Kemulian/kemenangan Islam kembali menjadi penyejuk pandangan mata ini. semoga dlm blog ini qt dapat semakin mengikat ukhuwah islamiyah, dan menambah keilmuan qt juga saling mengingatkan "wa tawasaubil haq, wa tawasaubil sobr"
This entry was posted in curhat. Bookmark the permalink.

2 Responses to Perbincangan 100 Km

  1. Ucapan Bapak bagus sekali, Ukhti. Ucapan yang ini:
    “Kalo saya sedang sibuk dan tidak tergantikan saya tidak ikut tapi saya akan merasa sangat bersalah bila tidak ikut kajian ketika waktu saya luang atau tidak ada pekerjaan,”
    Bisa jadi bahan renungan. Syukron.

    Wassalaamu ‘alaykum.

  2. puput says:

    motornya emg ga pulusi udara tp suara knalpot yg ngebazz brarti polusi suara dong. xixixixi..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s