I – K – H – L – A – S

Masih inget gak film “Kiamat sudah dekat”(… ingat…ingat ..) wah kalo film lebih mudah ya kita inget mungkin karena menggunakan visual dan audio kita (gak mau su’udzan ah… dari pada bilang kalo film inget tapi kalo kajian lupa hihii…). Ujian terakhir dari pak haji sebelum meminang anak semata wayangnya adalah ujian keikhlasan. Tapi saya gak akan kupas tuch film tapi lebih asyik mengupas “ikhlas” agar amalan kita menjadi lebih indah. Oke.. Bersiaplah….

***

Allah SWT berfirman (yg artinya) : iblis berkata “Demi kemulian-Mu, aku pasti akan menyesatkan mereka (anak-anak Adam) semuanya, kecuali hamba-hambaMu dari kalangan al-mukhlashin diantara mereka” (TQS Shad 83-84)

Biar lebih syahdu sambil di buka ya Qur’annya… hehe….

Dalam tafsirnya, al-Qurthubi (waduh sapa neeh… kok gak kenal ya?? Hehe… bukan salah syaikh Quthubi kamunya kurang gaul J ) beliau menafsirkan kata al-mukhlashin sebagai orang-orang yang ditanamkan (daam kalbunya) keikhlasan oleh Allah SWT dalam mengabdi kepadaNya. Dengan demikian al mukhlasin maknanya adalah al-mukhlisin (orang2 yang ikhlas).

Betapa luhurnya kedudukan ikhlas sehingga dalam doanya. Umar bin al Khaththab sering bermunajat, “ Ya AlLoh, jadikanlah amalku salih, dan jadikanlah ia ikhlas semata-mata karena Wajah-Mu (fauzy Sinuqarth, At Taqorrub ila AlLah hlm 11)

***

Para ulama juga menaruh banyak perhatian terhadap kata ikhlas ini. Banyak buku juga di terbitkan untuk ngebahas seputar masalah ikhlas. Hmm…. Buktinya kalian bisa setel ulang dech pelem kiamat udah deket, berapa banyak buku yang berhasil di kumpulin ama bang Fandy cs untuk ngejawab pertanyaan terakhir dari pak Kyai ampe2 Plang Masjid Al IKHLAS juga mau mereka cabut…. Saking penasarannya..

Kalian juga penasaran juga? Yuk qita lanjutkan…. bismilLah… mulai lagi…

Ikhlas adalah amalan kalbu, Meski tidak diketahui kecuali oleh AlLoh SWT., ikhlas sesungguhnya dapat dideteksi dari amalan lahiriah pelakunya. Meski tampak sederhana, ikhlas tidak sekedar tidak riya’ atau sum’ah. Artinya, seorang yang mukhlish tidak sekedar amalanya tidak dimaksudkan agar dilihat orang (riya’) atau di dengar orang (sum’ah). Lebih dari itu ikhlas memiliki konsekuensi yang tidak ringan.

Hehe…. semakin penasaran khan??? Lanjuuuutttt……..

Ketika kita Ikhlas dalam beramal, yakni beramal semata-mata karena AlLoh, berarti kita harus benar-benar menunjukkan bahwa amal kita semata-mata dipersembahkan hanya untukNya, bukan untuk selainNya. So, pertanyaannya : Apakah sesuatu yang dipersebahkan hanya untuk AlLoh itu cukup yang biasa-biasa saja, minimalis, atau terkesan ’asal-asalan’? Ataukah sesuatu yang dipersembahkan khusus untuk AlLoh itu harus yang berkualitas, istimewa dan optimal? Nah lohh… ayuk kita cek lagi setiap aktivitas yang kita katakan ikhlas kok untuk AlLoh jangan2 masih asal-asalan… qita tengok lagi sholat qita, sedekah kita, dakwah kita, bekerja kita, belajar kita, apakah sudah optimal dengan sebaik-baiknya untuk AlLoh?

Ketika seseorang mempersembahkan sesuatu hanya khusus bagi orang yang dicintainya, ia tentu akan mempersembahkan yang terbaik dan istimewa untuknya, bukan yang asal-asalan. Begitu juga kalo kita beramal ikhlas hanya untuk AlLoh Pencipta kita, maka kita hanya akan mempersembahkan amalan terbaik kita dan istimewa untukNya. Walhasil, ikhlas sesungguhnya harus berbuah ihsan. Waduh sapa lagi nich si ihsan, ihsan yang ini bukan ihsan pemenang indonesia idol ups.. tapi ihsan disini adalah melakukan amalan terbaik sesuai dengan yang AlLoh kehendaki.

***

Hmm… kalo kamu-kamu dan saya-saya meng”klaim” diri kita sebagai pengemban dakwah maka dakwah yang ikhlas adalah dakwah yang berkualitas, yang terbaik dan optimal. Asyiiiikk, aku khan bukan ustadz/ustadzah jadi gak perlu donk dakwah?? Eits… tunggu dulu, kewajiban dakwah itu adalah WAJIB tuk semua yang ngaku makhluk ciptaan AlLoh loh, kalo kamu ngaku keluarnya dari batu atau jatuh dari langit waktu hujan, bolehlah kamu gak dapet amanah dakwah ini… tapi keliatannya gak mungkin loh, kecuali kamu penganut paham materialisme seperti orang-orang sosialis yakini bahwa materi bisa menghasilkan materi yang lainnya. Udah ah ngomongin teori ini yang jelas-jelas lemah insyaAlLoh kita bahas ajah di sesi lain waktu oke.. insyaAlLoh…

Dalam sebuah buku seorang ulama menuliskan beberapa ciri da’i yang tidak/kurang ikhlas dalam dakwah sebagai berikut :

  1. hanya memberikan waktu sisa bagi dakwahnya
  2. bermalas-malasan dalam menunaikan amanah dakwahnya, sesekali berdakwah tapi seringkali meninggalkan dakwahnya
  3. jika mungkin, berusaha melempar beban kewajiban dawah kepada orang lain
  4. terkesan tidak bersungguh-sungguh dalam merencanakan dan mengerjakan dakwah, tidak berusaha menghasilkan dakwah yang terbaik dan optimal
  5. mudah putus asa, bahkan ’gugur’ di jalan dakwah. naudzubilLahi min dzalik

nah… tuch di atas ciri2 da’i yang tidak/kurang ikhlas dalam berdakwah. Ciri-ciri itu juga bisa loh juga jadi ciri orang-orang yang tidak/kurang ikhlasa dalam beraktivitas lainnya. Jadi sekarang kita sudah bisa nich menimbang-nimbang sendiri apakah amalan kita sudah ikhlas atau tidak. Bila belum maka sangat di sayangkan bila amalan kita menjadi sia-sia. Karena tidak di terima AlLah. Wallahu’alam bi showab

****

alhamdulilLah, selesai sudah pembahasan kita. Nah, dah tahukan kata ikhlas tidak hanya di lisan saja tapi juga di aplikasikan di amalan kita, bahwa amalan ini tidka hanya cukup semata-mata karena AlLoh, tapi juga persembahkan amalan yang paling istimewa untuk AlLoh SWT….

jadi IKHLAS gak baca artikel ini???? Hihiihi…….

***

diambil dari majalah al wa’ie no 76 tahun VII, bab Ibrah : ikhlas, dengan bahasa yang sudah di ubah dan di tambahi sendiri insyaAlLoh tanpa mengurai maknanya.

About mei allif

Assalamu'alaikum... perkenalkan... saya adalah saudarimu. saya bersyukur sebagai hamba Allah SWT, dan menjadikan ridhoNya adalah kebahagian saya. Syahid adalah cita-cita saya tertinggi. dan melihat Kemulian/kemenangan Islam kembali menjadi penyejuk pandangan mata ini. semoga dlm blog ini qt dapat semakin mengikat ukhuwah islamiyah, dan menambah keilmuan qt juga saling mengingatkan "wa tawasaubil haq, wa tawasaubil sobr"
This entry was posted in khasanah ilmu. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s