Di Gang KAUMAN jogjakarta

Rabu kemarin ada kenangan tersendiri yang menyenangkan. Pagi-pagi sudah siap untuk berangkat ke kulonprogo mau silaturahim ke tempat KKN teman. Hmm…. jalan-jalan sekalian belum pernah juga saya ke kulon progo. Jam 7 motor dah dipersiapkan tuk melaju ke kulon progro. Sebelumnya jemput kawan dulu. Sebelum pergi kawan saya mengajak mengunjungi mbah douzan dulu. Waduh sapa nich… apa temen saya mau minta restu mbah douzan ya, hmm mencurigakan? Nama si embah cukup unik juga Douzan jadi inget salah satu aktor laga willy douzan hehe….

***

sampailah juga di sebuah gang di daerah kauman jogja. Mei, kamu tunggu disini ajah, karena motor gak boleh di idupin disini (alias di tuntun gitu loh). Sebenarnya sich gak apa2 saya nunggu di depan gang, tapi dari pada sendirian di depan gang di temenin tukang becak (apa nemenin tukang becak yach heheh… ¿?), mending saya nuntun motor ajah memasuki gang itu, lagian penasaran nich ama mbah douzan. Akhirnya keputusan bulat saya tuk nuntun motor di anggukkan oleh kawan saya. Tanpa membantu sedikitpun saya menuntun motor sendiri. Hik..hik.. tega bener…. tapi tetep semangat mau ketemu ma mbah Douzan sich. Akhirnya sampailah di salah satu rumah di gang kecil itu. Sejenak saya mengamati rumah tersebut. Rumah kuno, seperti rumah peninggalan belanda (seperti??? Emang iya kaleee …). ada papan nama yang menggantung “perpustakaan al mudhour” aduh sebenarnya saya agak lupa nama tuch perpustakaan apa, maklum kaca mata yang merupakan indera ke enam saya,dilipet rapi di dalam tas, walhasil dengan pandangan kabur nama itulah yang terbaca dan teringat di benak saya saat ini. Sorry ya.. ntar cek sendiri dech ke kauman. Kedatangan kami disambut ramah oleh 3 orang yang ada disana. 1 orang bapak-bapak, dan 2 orang anak muda. Yang satu cowok sedang merapikan buku2 di perpustakaan, dan satu lagi cewek yang sedang ngaduk-ngaduk bubur tela yang ditawari kepada kami. Sebenarnya kalo yang di aduk gak Cuma sepiring, saya juga mau. Tapi karena cuma sepiring ya dengan halus saya menolak, udah terimakasih tadi baru ajah sarapan (gak bohong loh emang udah sarapan).

***

Sambil terus mengamati rumah yang misterius ini saya terus2an mencari sosok mbah Douzan, sedang kawan saya masih asyik bernostalgia ngobrol ke kanan ke kiri yang saya sendiri bisa memaklumi mungkin mereka dah lama gak ketemu. Hingga pada akhirnya kawan saya sadar bahwa dia membawa saya serta berpetualang pagi ini. Eh mei mau ketemu ma mbah Douzan gak?? … Mau donk, bukankah ini yang saya nantikan dari tadi. Walaupun sebenarnya saya agak sedikit deg-degan ajah bertemu mbah Douzan kesannya beliau itu sosok yang tertutup, bijaksana, yang duduk diatas kursi goyangnya sambil membaca buku memakai kacamata, dan disebelahnya ada secangkir kopi dan pasti akan bertemu dengan seperangkat tata krama tertentu. Maklum saya tidak lama merasakan mempunyai kakek. Ibu sudah yatim sejak kecil, sedangkan kakek dari ayah hanya saya rasakan sampai usia 7th di tambah seingat saya saya berjumpa dengan kakek baru 2x. Mei… sini jadi gak ketemu mbah Douzan?..

***

akhirnya saya di ajak ke ruangan sebelah perpustakaan kecil itu. Nah ini mbah Douzan kata kawan saya sambil menunjuk sebuah banner berdiri di sudut ruangan sebelah perpustakaan ini. Beliau sudah meninggal mei, baru di tahun ini (tepatnya mbah Douzan meninggal saya lupa). Hening… saya memandangi poster itu. Tampak sosok seorang kakek memkai kopyah, dengan kaca mata, memgang buku dan pena, di latar belakangi setumpuk buku2. Saya belum juga mengenal siapa mbah Douzen ini, saya coba mengingat2 apakah beliau adalah salah satu pejuang atau apalah yang karena kekurang pengetahuan saya ini menyebabkan saya tidak mengenal sosoknya. Saya terus memandangi banner dan wajah mbah Douzen, saya coba melihat buku2 yang menumpuk di belakang beliau, mencari2 siapa tahu mbah Douzen adalah seorang penulis. Ternyata tidak saya dapatkan nama beliau disana. Yang saya dapatkan hanyalah sebuah kata-kata mutiara dari beliau “Lebih baik menjadi Kutu Buku dari pada Mati Kutu” . Ya.. hanya kata itu yang saya dapatkan dari hasil mengamati banner tersebut. Baru satu kesimpulan saya bahwa mbah Douzan adalah sosok yang sangat cinta dengan Buku dan Ilmu Pengetahuan.

***

Setelah berpamitan, kami melanjutkan perjalanan kami ke kulon progo. Menyadari penasaran saya, kawan saya mengatakan, Mei, kalo kamu penasaran dengan Mbah Douzan nanti saya ceritakan di motor sambil jalan ke kulon progo. Ternyata Mbah Douzan tidak hanya mencintai buku dan ilmu, bahkan beliau membawa buku2 beliau dengan sepeda beliau berkeliling ke jalanan, ke penjara-penjara atau ketempat-tempat orang2 berkumpul juga ke sekolahan, untuk apa? Untuk sekedar menyadarkan mereka dan kita semua akan pentingnya membaca buku dan mencintai ilmu. Beliau rela menunggu berjam-jam menawari orang-orang yang beliau temui untuk membaca buku. Bahkan beliau membolehkan bila buku yang di baca tersebut dipinjam bahkan beliau menyarankan agar buku tersebut juga di pinjamkan ke teman2 si peminjam. SubhanalLoh…… beliau juga mengatakan dengan buku inilah cara beliau berdakwah. Beliau menyajikan buku-buku yang sehat untuk pemikiran dan perasaan umat islam ataupun non islam dengan tetap berdasar pada islam.

***

Mbah, sudah begitu Tua, tapi mengapa masih begitu Semangat,??? Saya malu mbah, buku saya juga sedikit banyak, tapi saya belum berkeliling membawa buku saya dengan motor ke pinggir jalan untuk menggiatkan orang2 agar cinta pada ilmu dan buku kembali. Saya baru suka mengajak mereka main ke kos saya untuk meminjam buku2 yang saya miliki atau membawakan mereka buku2 ketika saya ke kampus. Tapi saya mendapatkan pelajaran dari mbah walaupun mbah sudah tiada.

Saya masih terus mendengarkan cerita kawan saya tentang mbah Douzan… Ah.. kenapa kak tia baru hari ini mengajak mei ke sebuah gang di Kauman. Tapi gak apa2 dari pada tidak sama sekali dan tidak pernah ada kata terlambat, yang paling parah adalah orang yang tidak pernah memulai atau bergerak.

Teruntuk Mbah Douzan Faruq semoga AlLoh menerima segala amalan beliau, mengampuni dosa2nya, dan mendapatkan janji AlLoh yaitu pahala yang tidak terputus dari salah satu amalan dari 3 amalan dimana pahala tidak terputus yaitu ilmu yang bermanfaat. Amin allahuma amin.

Kulonprogo ternyata jauh juga yach… hehehe….. 3 jam kalo saya yang bawa motor. Dan temen saya udah protes di belakang karena badannya dah mulai pegel2.. Afwan…… khan biar lambat asal selamat. :d

About mei allif

Assalamu'alaikum... perkenalkan... saya adalah saudarimu. saya bersyukur sebagai hamba Allah SWT, dan menjadikan ridhoNya adalah kebahagian saya. Syahid adalah cita-cita saya tertinggi. dan melihat Kemulian/kemenangan Islam kembali menjadi penyejuk pandangan mata ini. semoga dlm blog ini qt dapat semakin mengikat ukhuwah islamiyah, dan menambah keilmuan qt juga saling mengingatkan "wa tawasaubil haq, wa tawasaubil sobr"
This entry was posted in curhat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s