KEHIDUPAN SUAMI ISTRI ADALAH SEPERTI PERSAHABATAN

Pernah denger lirik lagu ini :

selama ini ku mencari-cari
teman yang sejati
untuk menemani, perjuangan suci

Ya…lirik lagu tadi adalah TEMAN SEJATI dari Brother. Kalo diterusin lagunya cukup panjang jadi sepenggal saja untuk mengawali tulisan ini. Sebanarnya teman sejati dalam lagu tersebut bisa multi tafsir, bisa jadi seorang teman yang berjuang bersama kita dalam kelompok dakwah, atau teman sejati disini adalah suami/istri yang akan menemani kita juga berjuang dalam dakwah dan ibadah. Tafsir yang tertolak dalam penerjemahan teman sejati diatas adalah pacar. Karena gak ada pacaran dalam ISLAM.

Seorang isteri bukanlah mitra (syarîkah) hidup suami. Melainkan isteri lebih merupakan sahabat (shâhibah) suami. Pergaulan di antara keduanya bukanlah pergaulan kemitraan (perseroan). Mereka juga tidak dipaksa untuk menjalani pergaulan kemitraan sepanjang hidup mereka. Pergaulan di antara keduanya tidak lain adalah pergaulan persahabatan. Satu sama lain merupakan sahabat sejati dalam segala hal. Yaitu persahabatan yang dapat memberikan kedamaian dan ketenteraman satu sama lain. Sebab Allah SWT telah menjadikan kehidupan suami isteri itu sebagai tempat yang penuh kedamaian bagi suami-isteri. Allah SWT berfirman:

 “Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (TQS al-A‘râf [7]: 189)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (TQS ar-Rûm [30]: 21).

As-sakn maknanya adalah al-ithmi’nân (ketenteraman atau kedamaian). Dalam konteks ini artinya, supaya pernikahan itu menjadikan seorang suami merasa tenteram dan damai di sisi isterinya, begitu pula sebaliknya, seorang isteri akan merasa tenteram dan damai di sisi suaminya. Mereka akan saling cenderung satu kepada yang lain, dan bukannya saling menjauhi. Jadi, ketentuan dasar dalam sebuah perkawinan adalah kedamaian, dan dasar dari kehidupan suami-isteri adalah ketenteraman. Supaya persahabatan di antara suami-isteri tersebut menjadi persahabatan damai dan tenteram, maka syariah Islam telah menjelaskan apa yang menjadi hak isteri atas suaminya dan hak suami atas isterinya.
Diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda:

“Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada keluarga (isteri)-nya. Dan aku adalah orang yang paling baik dari kalian terhadap keluarga (isteri)-ku.” (HR al-Hâkim dan Ibn Hibbân dari jalur ’Aisyah RA)

Juga diriwayatkan bahwa Nabi SAW bergaul secara indah dan bersenda-gurau dengan isteri-isteri beliau, senantiasa bersikap lemah lembut kepada mereka, sering membuat mereka tertawa, dan bahkan beliau pernah berlomba (yakni lari, pen) dengan ‘Aisyah RA Ummul Mukminin, untuk memperlihatkan kasih-sayang kepadanya dengan cara
seperti itu. ‘Aisyah RA pernah menuturkan:

“Rasulullah SAW pernah mengajakku berlomba lari, maka aku pun berhasil mendahului beliau. Itu sebelum badanku gemuk. Lalu aku mengajak beliau berlomba lari setelah aku gemuk, maka beliau berhasil mendahuluiku. Lalu beliau bersabda: “Ini untuk membalas kekalahanku waktu itu”. (HR Ibn Hibban di dalam Shahîhnya.)

Dalam Islam pernikahan merupakan salah satu ibadah kepada AlLoh SWT. Kehidupan suami dan istri dalam sebuah pernikahan tidak juga seperti tuan dan budaknya atau seperti atasan dan karyawannya. Tidak peduli siapakah istri kita sebelumnya atau siapakah suami kita sebelumnya maka ketika seseorang telah menikah maka lunturlah segala peran dia di masyarakat, dan di dalam rumah tangga menjalankan perannya sebagai suami dan istri. Terkisahlah ibunda khodijah adalah majikan dari RosululLoh. RosululLoh bekerja kepada beliau untuk menjualkan barang-barang dagangan milik ibunda khodijah. Hingga akhirnya RosululLoh dan ibunda Khodijah menikah. Dalam rumah tangga tentu saja tetaplah RosululLoh sebagai kepala rumah tangga, bahkan ibunda khodijah menyerahkan semua hartanya untuk di gunakan di jalan dakwah. Beliau sukses menemani sebagai partner suami yang siap memberikan segala masukan, teman diskusi, menemani dikala suka dan duka, dan juga teman dalam dakwah, mengubah masyarakat jahiliyah pada waktu itu. Dan bersama-sama berlomba-lomba dalam kebaikan.

”Istri sholihah akan menurut perkataan suami asal syar’i, suami yang sholeh tidak akan menyianyiakan potensi istri” ^_^

by :Mei Allif dikutip dari buku nidzomul ijtima’i karangan syaikh Taqiyudin An Nabhani

About mei allif

Assalamu'alaikum... perkenalkan... saya adalah saudarimu. saya bersyukur sebagai hamba Allah SWT, dan menjadikan ridhoNya adalah kebahagian saya. Syahid adalah cita-cita saya tertinggi. dan melihat Kemulian/kemenangan Islam kembali menjadi penyejuk pandangan mata ini. semoga dlm blog ini qt dapat semakin mengikat ukhuwah islamiyah, dan menambah keilmuan qt juga saling mengingatkan "wa tawasaubil haq, wa tawasaubil sobr"
This entry was posted in artikel islam. Bookmark the permalink.