Sepenggal kisah perjuangan di KONGRES MAHASISWA ISLAM INDONESIA

di luar ruangan Tulisan ini adalah tulisan dari seseorang yang menjadi saksi perjalanan perjuangan kongres mahasiswa muslim indonesia 18 oktober 2009 kemarin. Tulisan yang bagus, dan bersemangat, walaupun aku sudah tidak mahasiswa lagi, tapi semangat ini masih sama, insyaAlLoh selamanya🙂. Teriring doa untuk sahabat2, adek2, dan semua pejuang kebenaran,.. Perjalanan ini ujungnya sangat indah, walau jalan yang kita lalui berliku dan terjal, genggam terus bara-nya, jangan pernah lepaskan, bahkan untuk berfikir melepaskannyapun jangan, mendekatlah terus pada pemilik Kekuatan, pemilik Semesta, dan Pengatur Kemenangan, Dzat yang paling Kuasa atas segalanya. AlLahu akbar….!!!

Inilah kisahnya :

17 Oktober 2009

Menjelang zuhur, telah ramai berkumpul di Masjid Kampus UGM, mahasiswa gabungan dari beberapa universitas di DIY. Dengan mengenakan jas almamaternya masing-masing, silau terpantul warna-warni oleh sinar mentari. Saya dan empat orang teman sedikit malu dengan kedatangan di tempat ini. Belum sempat terbungkus oleh almamater berwarna biru tua, pakaian khas perguruan tinggi tertua, yang menyandang nama Universitas Islam Indonesia. Malu karena tidak cukup bangga memamerkan jumlah teman seperjuangan yang seharusnya turut bermandi keringat dalam perjalanan kelak. UII, wakil dari utara hanya dengan lima orang saja.
Cukuplah dengan perkenalan singkat, kemudian sholat berjamaah. Tak lupa seremonial pelepasan kontingen DIY di timur masjid, 30 menit menahan panas, layaknya telapak kaki di atas penggorengan. Bus-bus pariwisata menanti di pinggiran jalan. Getaran mesin sebagai pertanda kesiapan menghantar 200 mahasiswa dari Jogja menuju Jakarta.
Akhirnya, pukul 14.30 iring-iringan 5 bus melaju perlahan sebagai awalan. Disertai bacaan basmalah kami semua berdoa, mengharapkan selamat perjalanan dan kesuksesan tujuan. Kongres Mahasiswa Islam Indonesia, itu nama acara yang akan kami hadiri. Diselenggarakan esok hari setelah keberangkatan kami. Konon acara besar ini dihadiri 5000 peserta yang seluruhnya mahasiswa dari berbagai propinsi di Indonesia. Tentu saja dengan segala kekurangannya tidak akan semulus dan menjanjikan seperti yang tertera di undangan dan lembar iklan, perkiraan saya dalam benak.

18 Oktober 2009

Jam di pergelangan tangan menunjukkan waktu pukul 3.35. Waktu yang tepat untuk tiba di Masjid Istiqlal. Melepaskan penat, membasuh tubuh dengan air, kemudian sholat subuh dengan nyaman. Seperti yang sudah-sudah. Masjid besar ini menjadi persinggahan bagi berbagai rombongan, baik yang satu tujuan dengan kami maupun ratusan orang yang berniat plesiran. Baru menjejakkan kaki di depan pintu masuk, jelas terlihat keramaian orang-orang yang akan menjadi lawan antrean di wilayah peturasan nanti. Sempat terlintas kenangan buruk dua tahun yang lalu, kala agenda akbar KKI 2007 digelar di Jakarta. Saat itu Masjid Istiqlal seolah bukan tempat yang nyaman bagi kami umat Islam. Dengan segala keburukan pengelolanya dan apapun yang terjadi di balik itu semua, saya berpikir ulang untuk meluapkannya dalam bentuk sepenggal cerita, takut ingatan itu berbalik menjadi sebuah dendam.
Alhamdulillah, ketakutan saya tidak terwujudkan. Pengelola begitu ramah, mulai dari penitipan sendal hingga pelayanan airnya yang lancar. Atau mungkin karena tidak terlihatnya ar-rayah berkibar oleh mata mereka? (ups..)

Pukul 5.30 kontingen dari DIY sudah terlihat rapi, bersolek dengan ketiadaan kosmetik yang mereka miliki. Sudah bisa terlihat pula oleh masing-masing mata, ramainya teman-teman satu tujuan yang akan bergerak ke senayan. Bus-bus dengan pelat selain AB terparkir diam di sekitar kami. Wajah-wajah mereka masih asing bagi kami, namun mimik wajahnya tak berbeda dengan semua yang ada di pelataran parkir ini. Sama-sama bermimik menahan lapar.

Tak sampai sejam kemudian sarapan pertama kami tiba. Nasi goreng plus kerupuk merah yang tidak tahan panas menjadi pembeda menu sarapan saya dengan teman-teman yang lain. Bismillah, kita santap bersama. Waktu belum menunjukkan pukul tujuh pagi dan bus kontingen DIY sudah melaju meninggalkan Istiqlal. Menuju senayan di dalam bus muncul berbagai guyonan. Guyonan khas Jogja dan syabab tentunya. Manakala melewati gedung-gedung pemerintahan mereka berandai-andai kelak akan menjadi kantor pemerintahan jaman Khilafah tegak. Gedung BI contohnya, akan menjadi Baitul Maal, kelakar seorang teman. Istana presiden pun tak luput dari cita menjadikannya rumah kerja sang khalifah. Amien.
Sekitar pukul 7.30 iringan bus kami tiba di parkiran senayan, arah mana tepatnya saya tidak paham. Baris-berbaris kami lakukan sekitar sepuluh menit sembari mendengarkan komando dari koordinator rombongan. Teman-teman dari STEI Hamfara terlihat mencolok dengan semangat mereka menyanyikan yel-yel dan tentu saja jumlahnya yang mencapai kurang lebih 75 mahasiswa. Sudah puas merenggangkan kedua kaki masing-masing, komando melangkah menuju gedung hall basket -tempat dimana rencananya akan dipakai sebagai tempat kongres- diteriakkan.

Kiranya ada 1,5 km kami berjalan. Di jalanan kami berpapasan dengan ramainya pengguna kawasan senayan ini. Jogging jelas pemandangan yang biasa, pria-wanita dengan pakaian lengkap maupun seadanya. Ternyata sedang ada lomba lari marathon 5 km yang lumayan ramai dan menyita perhatian pengunjung, dan ternyata jalan yang kami lalui turut mengganggu beberapa peserta lomba tersebut. Wah, maaf, kita bersaing sehat. Tibalah kami semua di depan gerbang tempat kongres akan dilaksanakan setelah 15 menit berjalan. Belum terlalu ramai oleh peserta, namun selalu terlihat lalu-lalang panitia dengan kesibukannya. Sebenarnya dalam perjalanan di dalam bus kami sempat diberitakan info bahwa kongres tidak jadi diadakan indoor. Sebabnya karena pihak kepolisian tidak kunjung mengeluarkan izin. Lalu ada berita yang menyusul bahwa ijin kongres diadakan dalam gedung berhasil turun namun dengan syarat acara hanya boleh berlangsung hingga pukul 13.00 saja. Tetap saja kerugian bagi pelaksanaan acara. Peserta dari berbagai daerah yang tiba di lokasi dipersilahkan berbaris seadanya karena acara belum juga dimulai. Kami semua semakin ragu bahwa kongres diadakan indoor, masalahnya ada 3 buah gedung olahraga kumuh yang tidak terlihat pintunya terbuka.

Benar saja, 45 menit kami menunggu di luar gedung hall basket hingga pekikan speaker berukuran jumbo membuat ribuan peserta tiba-tiba menjadi fokus pada asal suara tersebut. Dua orang MC laki-laki, dengan jas almamater kuning dan merah, berdiri di atas mobil pick-up yang ternyata telah disulap menjadi panggung dadakan. Mereka berdua menyambut kami semua dengan panggilan untuk mendekat dan ucapan salam. Lalu, terucaplah permohonan maaf dari segenap panitia kongres dan penjelasan mereka yang sekiranya tidaklah membuat kami kaget ataupun heran. Polisi yang jauh hari sebelum acara digelar dengan proses yang lambat mengulur waktu memberi keputusan ijin, hingga akhirnya 3 buah gedung yang ada di hadapan kami benar-benar terkunci rapat tidak terpakai. Jelas hari ini akan menjadi Kongres Jalanan terbesar.

Kami semua maklum, malah sebagian dari kami merasa hambar bila acara yang akbar ini tidak disertai hambatan yang berarti. Kepala kami kemudian dipenuhi prasangka-prasangka, ada apa gerangan pihak kepolisian tidak mengeluarkan ijin untuk sekedar kami menggelar kongres di dalam gedung yang nyata-nyata bisa lebih terkontrol. Jikalau polisi was-was dengan kedatangan ribuan mahasiswa yang bersemangat dan dipenuhi emosi yang menggebu-gebu, bukankah dengan memaksa kami menggelar kongres jalanan di bawah terik mentari semakin meningkatkan potensi semangat dan emosi di luar kendali? Beruntunglah pihak keamanan, kami semua mahasiswa Islam, yang memutuskan berjuang secara intelek tanpa kekerasan. Semangat yang makin meluap karena panas matahari di ubun-ubun menjadikan takbir kami begitu menggelegar hingga bergetar kendaraan yang terparkir di luar sana. Emosi yang terbakar di dalam jiwa karena panggilan bersatunya mahasiswa Islam Indonesia ditambah kezaliman kepolisian saat itu menjadikan seruan kami terhadap perjuangan tegaknya syariah dan khilafah semakin padu, kebencian terhadap demokrasi kami ledakkan melalu caci maki bahwa “Demokrasi..demokrasi..demokrasi pasti mati!!”.

Kedua MC di hadapan kami lantas berteriak, mengharapkan kami semua mengikuti perkataannya terhadap segelintir polisi di luar gerbang. “Pak polisi! Jumlah kami saat ini… Ada lebih dari 5000 orang!!” Teriakkan yang begitu riuh meledak setelah semua peserta tahu bahwa teman-teman seperjuangan mereka yang hadir melebihi batas undangan. Kami seolah ingin berterima kasih kepada polisi yang ‘menyediakan’ tempat memadai bagi mahasiswa yang berjumlah sebanyak ini. Dan seperti tidak ada jeda bagi MC untuk membiarkan kami terdiam barang sejenak. Panggilan takbir, tahlil dan makian terhadap demokrasi selalu membasahi kerongkongan kami. Kemudian acara diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, lebih dari lima menit namun begitu merdu pelafalannya hingga seluruh dari kami merasa tersejukkan. Itulah Al-Qur’an, landasan perjuangan 5000 lebih mahasiswa yang hadir di tempat ini. Total ada enam pembicara dalam Kongres Jalanan Mahasiswa Islam Indonesia yang berlangsung dari pukul 8 pagi hingga 12 siang, empat diantaranya berasal dari kalangan non-mahasiswa, sisanya perwakilan mahasiswa dari Kalimantan dan Sulawesi.

Suasana kembali meriah saat teks sumpah mahasiswa yang terbungkus rapi oleh figura keemasan diletakkan di atas panggung. Pembacaan sumpah yang menjadi puncak acara. Jari telunjuk kami semua teracung menghadap langit, melafalkan kata demi kata serempak, membahana! Teriakkan “Khilafah..Khilafah..Khilafah” seringkali terdengar saat jeda. Ditegaskan kepada kami semua bahwa yang kami bacakan adalah sumpah antara mahasiswa Islam yang hadir dengan Allah SWT secara langsung! Tidak ada lagi perjuangan pragmatis, yang wajib diperjuangkan adalah syariah Islam dan tegaknya Khilafah yang dijalankan berdasar metode rasulullah Muhammad saw, matahari dan teriknya menjadi saksi, lalu berkumandanglah takbir, Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar!! Kemudian kami melompat bersama, menghentakkan kaki, mengepalkan jari-jemari, meneriakkan yel-yel favorit pada saat itu, yel-yel yang berjudul “Demokrasi vs Khilafah”! “Demokrasi..demokrasi..demokrasi pasti mati! Demokrasi..demokrasi..demokrasi biang keladi! Khilafah..Khilafah..Pasti tegak kembali! Khilafah..Khilafah..janji Allah yang pasti!!” Allahu Akbar!!
Kami semua benar-benar merasa satu, satu aqidah Islam, satu jalur perjuangan, satu sistem yang kami ikhlas dipimpinnya kelak! Beruntung bagi saya, keringat yang mengalir dari dahi mengaburkan aliran air mata beberapa kali. Inilah tonggak awal perjuangan mahasiswa Islam di seluruh Indonesia!

~Berikut adalah nukilan perkataan dari beberapa pembicara dalam kongres yang mampu menggetarkan jasad dan hati 5000an lebih peserta kongres~

1. Dwi Condro Triono/ Ahli Ekonomi

“Indonesia miskin bukan karena korupsi, tapi karena tidak rakyatnya tidak beriman dan bertakwa kepada Allah.” … “Serahkanlah kepengurusan sumber daya alam kepada Allah saja.” … “Sistem sosialisme telah berlangsung semasa orde lama dan hasilnya Gatot Kaca alias gagal total keakehan cangkem.”

2. Felix Siauw – Mualaf/ Islamic Inspirator

“Banyak yang mengatakan saya aneh, saya gila, manakala saya langsung memperjuangkan Islam padahal baru menyandang sebagai seorang mualaf. Seolah-olah ilmu yang saya miliki sudah melebihi mereka yang lebih dahulu memeluk Islam. Padahal yang saya perjuangkan adalah janji Allah yang pasti.”

3. Perwakilan Mahasiswa Kalimantan

“Perjuangan mahasiswa harus menuju ke arah perjuangan sistem bukan lagi rezim. Sistem sosialisme dan kapitalisme telah diberi kesempatan untuk berkuasa kemudian gagal. Saatnya sistem Islam yang diberi kesempatan.”

4. Perwakilan Mahasiswa Sulawesi

“Kalau Bush bisa menawarkan dua pilihan kepada dunia yaitu bersama Amerika atau bersama teroris, maka kita sebagai mahasiswa Islam juga bisa menawarkan pilihan kepada seluruh mahasiswa, ingin memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah bersama kami atau kami akan menggilas pemikiran-pemikiran keliru mereka!”

~Yogyakarta 19/Oktober/2009~

To Pandu, syukran ijin share catatan di facebooknya… semoga menjadi amal sholih untuk pandu. Amin..

About mei allif

Assalamu'alaikum... perkenalkan... saya adalah saudarimu. saya bersyukur sebagai hamba Allah SWT, dan menjadikan ridhoNya adalah kebahagian saya. Syahid adalah cita-cita saya tertinggi. dan melihat Kemulian/kemenangan Islam kembali menjadi penyejuk pandangan mata ini. semoga dlm blog ini qt dapat semakin mengikat ukhuwah islamiyah, dan menambah keilmuan qt juga saling mengingatkan "wa tawasaubil haq, wa tawasaubil sobr"
This entry was posted in artikel islam. Bookmark the permalink.

3 Responses to Sepenggal kisah perjuangan di KONGRES MAHASISWA ISLAM INDONESIA

  1. rahman says:

    dengan tidak terasa,air mata saya jatuh membaca paragraf demi paragraf di tulisan ini,….subhanallah,malu rasanya diri ini tidak mengikuti kmii..tapi..semangat saya akan bersama 5000 pemuda yangh selalu istiqomah memperjuangkan kembalinya khilafah masa depan…terima kasih kepada syaikh taqiyuddin yang telah mendidik saya dengan kitab2nya..walaupun gerak saya masih tersendat2..semoga saya bisa mengajak teman2 saya dalam indahnya perjuangan ini.

  2. rahman says:

    jangan pernah berhenti tuk meneriakan khilafah,walau sekililing anda tidak memperdulikannya…sungguh semua akan ada balasannya..tetaplah berjuang saudaraku.

  3. mei allif says:

    AlLahu Akbar!! semoga perjuangan ini kan berakhir kemenangan dengan tertegakkannya Islam kembali. amin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s