THE NANNY

Awalnya aku selalu kagum dengan sosok the nanny dalam serial reality show tentang problematika pengasuhan anak di salah satu stasiun televisi swasta. Apalagi serial barunya dengan judul “SUPER NANNY” yang artinya dia pengasuh yang lebih luar biasa lagi, karena bisa untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang berat dalam pengasuhan anak. Luar biasa menurutku pada waktu itu…

Sambil terus menikmati acara tersebut, fikiranku mulai melayang-layang. Yang awalnya perhatianku hanya ficus pada sosok the nanny yang sabar dan tegas, perhatianku kemudian berpaling pada, bagaimana karakter keluarga dan anak-anak yang bermasalah tersebut.

AstaghfirulLoh, ternyata kenakalan anak-anak tersebut di luar kewajaran. Dalam tanyangan tersebut yang paling sering aku jumpai adalah, anak-anak yang selalu mengumpat kepada orang tuanya, anak-anak yang tidak bisa menghargai orang tua mereka, sesama saudara saling menyakiti seperti seorang kakak menarik kursi adeknya yg sedang duduk di meja makan, atau berteriak-teriak dengan kata-kata kasar dan kotor. Belum lagi saling memukul satu dengan yang lainnya, tidak mau mengalah, menumpahkan makanan di meja makan, meludah kepada orang tua. masyaAlLoh, sungguh luar biasa dan di luar kewajaran kenakalan-kenakalan mereka. saya juga sering menemui kenakalan pada anak-anak di sini, seperti menangis bila meminta sesuatu, berebut mainan, tidak bisa merapikan mainan. Tapi untuk sikap tidak hormat pada orang tua dan mengupat pada orang tua tidak (belum – semoga saja tidak) saya temui. Paling tidak kata-kata yang keluar sungguh sangat kasar sekali. Hmmm…. saya jadi berfikir, wajar sekali hal tersebut akan terjadi. Dalam bingkai pendidikan anak keluarga mereka, mereka tidak memiliki gambaran akan di jadikan atau di bentuk menjadi apakah anak-anak mereka kelak.

Anak adalah ibarat kertas putih, ingin di torehkan warna apa orang tualah yang memiliki peranan yang sangat besar. Dalam keluarga barat, orang tua tidak berperan terlalu besar terhadap anak-anak, malahan lebih terkesan mereka hanya sebagai yang melahirkan saja, sedangkan untuk urusan selanjutnya tentang dia akan hidup seperti apa, akan beragama apa, akan di serahkan sebesar-besarnya kepada anak dengan dalih KEBEBASAN (Liberalisme). Jadi tidka jarang kita akan melihat dalam potret keluarga barat, ada juga keluarga islam yg mengambil gaya hidup barat dalam 1 keluarga bisa beraneka ragam agama ada disana dan dianggap merupakan hal yang biasa-biasa saja.

Dalam pandangan islam, anak adalah amanah yang ALLAH berikan kepada orang tua, yang namanya amanah pasti akan ada pertanggung jawaban disana. Bahkan di dalam islam salah satu investasi abadi (dunia-akherat) adalah anak itu sendiri, dan tentunya bukan anak yg mejadi dokter, anak yang menjadi insinyur atau menjadi artis yg jadi investasi kita di dunia dan akherat tapi anak-anak yg kita didik dan menjadi anak-anak yang sholih/ah. Amin…

Anak yang Allah amanahkan pada kita bukanlah robot. Yang bisa kita dengan semau kita menyuruh ini dan itu tanpa memperhatikan perasaan mereka. Anak juga bukan hewan ternak atau hewan pekerja yang harus kita pukul terlebih dahulu baru mereka menurut, atau harus kita marahi terlebih dahulu baru mereka mau mengerjakan sesuatu. Bukan bunda, anak kita adalah makhluk ciptaan Allah yang Allah memberikan potensi akal, naluri (gharizah) dan juga kebutuhan jasmani (hajatul udawiyah), sehingga anak-anak kita adalah manusia-manusia yang bisa kita ajak berbicara/berkomunikasi, bisa kita ajak ikut merasakan, dan bisa kita ajak berfikir.

Tapi mendidik anak memang bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu Allah memberik ganjaran pahala yang tiada terkira. Dan ingat, peran dalam mendidik anak adalah ada pada kedua orang tuanya, bukan pada televisi, bukan pada kaset VCD, bukan pada baby sitter, bukan juga pada ibu/bapak kita (nenek anak2 kita), bukan pula pada institusi pendidikan. Orang tualah yang bertanggung jawab untuk mendidik mereka, dan ibu yang memilki peran yang lebih besar.

Maka jadilah madrasah pertama bagi anak-anak kita, berikan tauladan terindah kita untuk mereka. Didiklah mereka sedari dalam kandungan, bahkan mungkin sedari mereka belum di titipkan di rahim kita dengan cara banyak-banyak bertaqqorub (mendekatkan diri) kepada Allah, melalui sholat, ibadah sunah, tadarus al qur’an, membaca buku-buku yang bermanfaat terkait pendidikan anak dan tumbuh kembang anak, melengkapi dengan ilmu-ilmu agama. InsyaAllah, anak sholih/ah akan terlahir dari ibu-ibu yang sholihah juga. Amin. insyaAllah. Wallahu’alam bi showab

By : mei ( annisa mutaqarabahallah)

About mei allif

Assalamu'alaikum... perkenalkan... saya adalah saudarimu. saya bersyukur sebagai hamba Allah SWT, dan menjadikan ridhoNya adalah kebahagian saya. Syahid adalah cita-cita saya tertinggi. dan melihat Kemulian/kemenangan Islam kembali menjadi penyejuk pandangan mata ini. semoga dlm blog ini qt dapat semakin mengikat ukhuwah islamiyah, dan menambah keilmuan qt juga saling mengingatkan "wa tawasaubil haq, wa tawasaubil sobr"
This entry was posted in curhat. Bookmark the permalink.

2 Responses to THE NANNY

  1. nurrahman18 says:

    baru tau nama pena mbak Mei, annisa M😀

  2. saya huga suka liat acara yang di ceritain mba .

    salam kenal🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s